Mengenal Strategi ‘Concentrated Diversification’

Posted: April 11, 2018 in Tak Berkategori
Salah satu quote terkenal dalam investasi saham adalah, ‘do not put all your eggs in one basket’, yang artinya bahwa seorang investor disarankan untuk tidak menempatkan seluruh dananya hanya pada satu atau dua saham saja, melainkan sebaiknya disebar ke beberapa saham berbeda. Atau dengan kata lain, seorang investor dianjurkan untuk melakukan diversifikasi, biasanya bertujuan untuk mengurangi risikoterjadinya kerugian. Dan di blog ini kita sudah banyak membahas tips-tips dan trik dalam menerapkan diversifikasi portofolio, misalnya pada artikel ini, danartikel ini.
Terkait quote diatas, sebagian orang mungkin mengira bahwa quote tersebut diucapkan oleh Warren Buffett, padahal bukan. Malah justru, Buffett terkenal sebagai investor yang anti diversifikasi, dimana ia pernah mengatakan bahwa kalau anda sudah cukup yakin dengan investasi anda di satu saham/perusahaan tertentu, maka anda tidak perlu lagi berinvestasi/membeli saham perusahaan lainnya. Tapi kalau kita lihat lagi komposisi porto Berkshire Hathaway yang sampai berisi ratusan saham/anak usaha yang berbeda-beda di hampir semua bidang usaha, maka mungkin anda bakal jadi bingung: Jadi Warren Buffett ini sebenarnya anti diversifikasi, atau tetap menerapkan diversifikasi, atau bagaimana???
Nah, dalam hal ini penulis mengajak anda untuk melihat lagi seperti apa cara kerja Buffett, baik itu ketika dulu masih mengelola partnership-nya atau sudah memegang Berkshire Hathaway, dibanding dengan fund manager/manajer investasi lain pada umumnya. Kebanyakan manajer investasi (MI) yang bekerja di perusahaan reksadana/asset management, mereka biasanya tidak hanya menempatkan dana kelolaan di saham, tapi juga di obligasi, pasar uang/deposito, hingga surat utang negara, dalam rangka diversifikasi. Namun Buffett tidak begitu, dimana ia hampir menempatkan seluruh portofolionya di saham, dan sangat jarang membeli obligasi ataupun instrumen investasi lainnya. Buffett mungkin menempatkan sebagian asetnya dalam bentuk cash/deposito di bank, tapi itu adalah untuk jaga-jaga kalau nanti ada kesempatan untuk beli saham bagus pada harga murah, jadi bukan untuk memperoleh bunga depositonya.
Kemudian, para MI biasanya membeli saham-saham blue chip yang termasuk 10 saham dengan market cap terbesar, tak peduli dalam kondisi pasar yang bullishmaupun bearish, tak peduli meski harga belinya mahal. Jadi, yup, kalau kita pakai contoh para MI di Indonesia, maka bisa penulis katakan bahwa 90% dari merekaselalu memegang minimal salah satu dari saham Astra International (ASII), Bank BCA (BBCA), Bank BRI (BBRI), HM Sampoerna (HMSP), atau Unilever Indonesia (UNVR). Karena asumsinya adalah, meski pegangan saham yang lain mungkin bisa saja naik atau turun sendiri sewaktu-waktu, tapi saham-saham big caps akan selalu naik turun mengikutibenchmark IHSG. Jadi kalau misalnya seorang MI salah pilih saham small capyang ternyata malah turun banyak, maka kinerja unit reksadananya secara keseluruhan tidak akan terlalu buruk dibanding rata-rata pasar, karena pegangan saham-saham blue chip-nya tetap akan bergerak selaras dengan IHSG.
However, strategi ini menyebabkan portofolio seorang MI menjadi berisi banyak saham berbeda, karena ketika ia membeli dan meng-hold banyak saham-saham mid and small cap, maka disisi lain ia tetap harus mengalokasikan sejumlah dana untuk membeli beberapa saham big caps, tak peduli meski mereka membeli saham-saham big caps tersebut pada valuasi yang sebenarnya sudah overvalue.Beberapa MI juga terkadang membeli minimal satu saham yang dianggap terbaik dari tiap-tiap sektor industri di bursa (jadi kalau misalnya ada 30 sektor berbeda, maka ia membeli 30 saham berbeda), sekali lagi, dalam rangka diversifikasi.
Tapi Buffett, sekali lagi, tidak begitu. Sejak menjalankan partnership-nya di tahun 1960-an, Buffett jarang membeli saham-saham big caps di NYSE, apalagi jika tujuannya adalah untuk ‘menyelaraskan kinerja partnership-nya dengan naik turunnya Dow Jones’. Melainkan, ia tetap fokus invest pada saham-saham yang ia anggap undervalue, dan ia hanya membeli saham big caps jika valuasinya memang murah. Alhasil, jika MI lain bisa memegang sampai 100 saham berbeda dalam satu waktu, maka Buffett paling banyak hanya memegang sekitar 20 saham saja. Inilah asal mulanya Buffett dikenal anti diversifikasi, karena cara kerjanya sangat berbeda dibanding MI lain pada umumnya. Tapi juga harus diingat, anti diversifikasi ala Buffett ini bukan berarti dia hanya membeli satu dua saham saja, melainkan ia tetap membeli beberapa hingga belasan saham-saham yang berbeda.
Anyway, istilah ‘anti diversifikasi’ yang disampaikan Buffett mungkin tetap terdengar membingungkan, karena toh nyatanya ia tetap melakukan diversifikasi tersebut. Termasuk hari ini, seperti yang sudah disampaikan diatas, Berkshire Hathaway memegang saham dari ratusan perusahaan yang berbeda. Jadi mungkin istilah yang lebih tepat adalah yang disampaikan oleh guru Buffett, Ben Graham, di bukunya The Intelligent Investor: Concentrated diversification,alias diversifikasi terkonsentrasi, dimana anda tetap disarankan melakukan diversifikasi tapi jangan berlebihan, jangan pula membeli obligasi atau instrumen pasar uang, dan isi portofolio anda harus tetap terkonsentrasi pada saham-saham bagus yang dibeli pada harga undervalue.
Jika dibuat poin per poin, maka tips-tipsnya adalah sebagai berikut:
  1. Kecuali dalam kondisi tertentu, anda tidak perlu lagi berinvestasi pada instrumen investasi diluar saham. Kalaupun anda menyisakan sejumlah cash pada situasi pasar tertentu, maka tujuannya tetap agar bisa belanja saham lagi sewaktu-waktu,
  2. Anda tidak perlu membeli saham tertentu hanya karena saham tersebut populer atau berstatus ‘blue chip’. Kalaupun anda hendak membeli saham blue chip, maka pastikan bahwa harganya memang undervalue/tunggu timing terbaik untuk masuk, misalnya ketika terjadi koreksi pasar,
  3. Anda juga tidak perlu membeli saham dari tiap-tiap sektor usaha di bursa. Beberapa sektor usaha mungkin perlu dihindari pada satu waktu tertentu, dan baru layak investasi lagi pada waktu-waktu yang lain,
  4. Pastikan bahwa portofolio anda hanya berisi saham-saham berfundamental bagus dan undervalue, dan ingat pula bahwa saham dengan kriteria seperti itu jumlahnya tidak banyak. Sehingga normalnya porto anda tidak akan berisi terlalu banyak saham-saham yang berbeda, melainkan hanya beberapa saja, dan
  5. Anda boleh menempatkan hingga 40% total dana kelolaan hanya pada satu saham (ini kata Buffett sendiri), tapi tidak lebih dari itu.
Lebih jelasnya, Buffett pernah menulis sebagai berikut, ‘Jika anda bisa menemukan enam saham/perusahaan yang sangat bagus, maka anda sudah cukup melakukan diversifikasi, dan anda akan menghasilkan banyak uang. Saya bisa menjamin bahwa keputusan untuk membeli saham ketujuh akan menjadi kesalahan besar, dan akan jauh lebih baik jika anda menambah investasi pada salah satu dari enam saham yang sudah anda miliki. Enam saham sudah cukup banyak, dan saya sendiri mungkin akan menempatkan lebih dari separuh total portofolio hanya pada dua atau tigadiantaranya.’ Sekedar catatan, meski Berkshire Hathaway sekarang ini memang memegang ratusan saham berbeda, namun ‘saham-saham kesayangan’ Buffett sebenarnya jumlahnya tidak banyak, melainkan hanya beberapa saja, seperti Coca Cola, American Express, dan IBM.

Sementara Joel Greenblatt mengatakan, ‘Jika anda sudah membeli enam hingga delapan saham yang berbeda, maka itu sudah cukup, dan risiko kerugian yang anda tanggung tidak akan berkurang signifikan jika anda membeli saham kesembilan dan seterusnya.’ Seth Klarman mengatakan, ‘Jika tujuannya adalah untuk meminimalisir risiko, maka jumlah saham yang harus dimiliki seorang investor tidak perlu terlalu banyak. Biasanya sepuluh hingga lima belas saham sudah cukup.’ Dan Teguh Hidayat mengatakan, ‘Diluar saham-saham yang di-hold forever, maka portofolio anda sebaiknya berisi sepuluh hingga dua belas saham berbeda’.
However, tidak pernah ada seorang investor-pun yang mengatakan, ‘Satu saham sudah cukup, dan anda tidak perlu membeli saham kedua’, dan penulis sendiri juga tidak akan menyarankan itu. Kemudian kalau anda membeli katakanlah lima saham berbeda namun semuanya berasal dari sektor yang sama, maka itu juga bukan diversifikasi yang baik. Terkait tips No.3, penulis ingat bahwa di tahun 2012, 2013, 2014, hingga 2015, saham-saham batubara tampak menarik karena mereka nyaris selalu turun dibanding tahun sebelumnya, tapi penulis sendiri ketika itu tidak pernah masuk ke sektor batubara ini, dan baru masuk di tahun 2016 ketika akhirnya harga batubara mulai naik kembali. Jika seorang investor memutuskan untuk membeli saham-saham batubara antara tahun 2012 – 2015 dalam rangka ‘diversifikasi’, maka bukannya meminimalisir risiko, yang ada ia malah merugi karena ketika itu saham-saham di sektor tambang terus saja turun.
Dan terkait Tips No.1, maka anda bisa lihat bahwa di blog ini dari dulu sampai sekarang kita cuma bahas investasi saham, karena penulis sendiri selama ini investasinya ya cuma di saham saja, dan gak pernah invest di obligasi, reksadana, taroh dana di deposito, apalagi belibitcoin. Termasuk kita tidak pernah tertarik beli saham di bursa luar negeri, melainkan selalu fokus ke saham-saham Indonesia. However, kebanyakan ‘investor’ lain tidak seperti itu, dimana mereka kadang-kadang membahas juga soal investasi properti, trading forex, hingga trading emas dan komoditas. Juga ketika ramai bitcoin dan cryptocurrency lainnya, mereka langsung ikut-ikutan. Penulis tidak tahu apakah cara investasi yang ‘terdiversifikasi’ seperti itu sukses menghasilkan keuntungan yang besar, atau malah jadinya gagal fokus, tapi yang jelas penulis selama ini hanya berinvestasi di saham saja, dan so far hasilnya tidak mengecewakan.
Anyway, bagi investor pemula atau investor paruh waktu, maka tentu tidak disarankan untuk langsung taroh semua uang yang anda miliki di saham, karena itu terlalu berisiko. Jadi kalau anda diversifikasi ke sektor riil, misalnya dengan memiliki properti untuk disewakan, atau sawah/kebun yang menghasilkan, maka itu boleh, malah sangat dianjurkan. Tapi setelah anda memegang aset-aset riil tersebut, maka dalam rangka menerapkan ‘concentrated diversification’, anda sekarang sudah tahu, kemana seluruh investasi anda harus ditempatkan

Source: http://www.teguhhidayat.com

Iklan

Bagi Anda yang baru masuk dan terjun ke pasar saham mungkin belum mengetahui dengan baik berbagai istilah dalam pasar saham. Pamahaman terhadap istilah yang ada di pasar modal sangat penting untuk anda pertimbangkan agar bisa menjalani aktivitas investasi dan trading saham dengan lebih baik.

Nah, kali ini kami akan membagikan beberapa istilah penting yang ada di dalam pasar saham dan penting untuk dipahami oleh para pemula.

Berikut ini penjelasannya lebih lanjut Daftar Istilah Dalam Saham untuk Anda semua.

Daftar Istilah Dalam Saham Dasar
Pasar Perdana ( IPO )

Pasar Perdana adalah merujuk pada penjualan efek untuk pertama kalinya ke publik atau biasa disebut dengan Initial Public Offering (IPO). Saat Anda membeli saham perdana artinya Anda telah membeli saham pada saat masa penawaran umum perdana.

Pasar Sekunder

Pasar sekunder adalah perdagangan efek setelah diterbitkan dan dijual untuk pertama kalinya. Efek di pasar sekunder sudah pernah diperdagangkan di pasar perdana.

Manajer Investasi

Pihak yang telah memperoleh izin dari Bapepam untuk melakukan kegiatan usaha mengelola portofolio efek untuk sekelompok nasabah. Pihak yang dikecualikan adalah perusahaan asuransi, dana pensiun, dan bank yang melakukan sendiri kegiatan usahanya.

Pialang

Pialang merupakan pihak yang membeli dan menjual saham atas perintah dari para investor yang menanamkan modalnya. Aktivitas yang dilakukan akan mendapatkan komisi.

Emiten

Emiten merupakan sebuah perusahaan yang menawarkan efek kepada masyarakat investor melalui penawaran umum.

Portfolio

Portofolio saham akan terbentuk saat Anda melakukan diversifikasi investasi dengan kombinasi saham, obligasi, alas, properti, dan yang lainnya. Portofolio diciptakan oleh investor dengan tujuan mengurangi resiko kerugian yang bisa saja didapatkan.

Prospektus

Sebuah informasi tertulis yang berhubungan dengan penawaran umum yang bertujuan agar pihak lain membeli efek yang ditawarkan.

Market Capitalization

Nilai yang dimiliki oleh sebuah perusahaan publik berdasarkan harga pasar saham yang dikalikan dengan jumlah saham yang beredar di masyarakat.

Likuiditas

Tingkat kemudahan saham itu ditransaksikan. Semakin tinggi peminat saham tersebut makan akan semakin sering terjadi transaksi. Maka saham akan disebut likuid atau cair.

Saham Blue chips / First Liner

Jenis saham dari perusahaan unggulan yang memiliki kapitalisasi pasar yang besar. Saham yang masuk dalam kategori Blue Chip biasanya saham yang mudah ditransaksikan dan likuid. Batasan disebut saham blue chips adalah ketika harga satu lotnya diatas Rp. 5000,00.

Saham Second liner

Jenis saham kedua memiliki karakteristik lebih aktif dan kapitalisasinya lebih rendah. Saham second liner sangat disukai oleh para trader ataupun para investor jangka panjang karena diyakini akan memiliki nilai lebih dikemudian hari. Batasan untuk saham Second Liner adalah Rp. 1000,00 sampai dengan Rp. 5000,00.

Saham Third Liner

Jenis saham yang sangat disukai oleh para trader ataupun para bandar. Dengan harga yang murah dan kapitalisasi yang rendah, harga saham ini mudah dimanipulasi atau terjadi peningkatan signifikan dalam sehari. Saham ini juga dikenal dengan istilah saham gorengan. Batasan saham ini biasanya dibawah Rp. 1000,00.

Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG)

IHSG merupakan indikator gabungan yang menunjukkan pergerakan harga saham secara keseluruhan yang tercatat di dalam Bursa Efek Indonesia.

LQ-45

LQ-45 merupakan sebuah indeks yang ada didalam Bursa Efek Indonesia dan dibentuk berdasarkan saham yang memiliki likuiditas dan kapitalisasi pasar tertinggi. Saham yang ada didalam daftar ini akan terus dievaluasi setiap 6 bulan sekali.

Perantara Pedagang Efek

Sebuah perusahaan yang bertindak sebagai perantara bagi para pemodal yang akan melakukan transaksi jual beli saham di pasar modal. Selain sebagai perantara, perusahaan tersebut bisa juga membeli dan menjual efek atas namanya sendiri. Saat hal ini terjadi, maka perusahaan bertindak sebagai pedagang bukan sebagai perantara pedagang efek lagi.

Perantara Pedagang Efek bekerja berdasarkan amanat yang diberikan investor, baik saat akan menjual atau saat akan membeli saham tersebut. Aktivitas yang mereka lakukan akan mendapat komisi dan nilainya berdasarkan negosiasi dengan investor.

Perusahaan Efek

Sebuah perusahaan yang melakukan kegiatan usaha sebagai penjamin emisi efek.

Perusahaan Publik

Perusahaan yang termasuk dalam perusahaan publik adalah perusahaan yang jumlah sahamnya telah dimiliki setidaknya oleh 300 orang pemegang saham dan mempunyai modal disetor paling sedikit 3 Milyar rupiah. Aturan di atas tidak berlaku kaku dan terus berubah berdasarkan ketentuan dari pemerintah.

Perusahaan Tercatat/Listed Company

Sebuah perusahaan yang sahamnya telah terdaftar dan tercatat serta diperdagangkan dalam Bursa. Agar bisa masuk sebagai Listed Company, perusahaan harus mengikuti persyaratan yang telah ditetapkan oleh Bursa.

Penasehat Investasi

Sebuah perusahaan atau sesorang yang telah mengantongi izin resmi dari Bapepam untuk bertindak sebagai pemberi nasihat. Mereka memberikan nasihat kepada para pemodal yang akan menanamkan modal yang dimiliki dengan harapa bisa mendapatkan penghasilan yang memadai.

Daftar Istilah Saham Dalam Aksi Korporasi 
Go Public

Istilah yang merujuk saat sebuah perusahaan menawarkan saham yang dimiliki kepada masarakat untuk yang pertama kalinya.

Dual Listing

Dual Listing mengacu pada saham yang dicatat di lebih dari 1 bursa. Dengan cara seperti ini likuiditas surat beharga bisa lebih terjaga.

Delisting/Penghapusan Pencatatan

Delisting merupakan sebuah istilah yang merujuk pada dihapuskannya efek dari daftar saham yang tercatat di Bursa. Dengan demikian efek tersebut tidak bisa lagi diperdagangkan di dalam Bursa Efek Indonesia.

Stock Split

Memecah satuan unit saham menjadi lebih 1 saham. Cara ini dilakukan untuk menambah jumlah saham yang beredar.

Suspensi

Suspensi merupakan penghentian sementara perdagangan suatu saham di pasar efek. Hal ini dilakukan bisa karena permintaan dari emiten atau dikarenakan keputusan yang dibuat oleh Bursa. Jika Bursa yang menetapkan penghentian sementara biasanya bertujuan untuk melindungi para investor dan bisa karena pemberian sanksi dari pihak Bursa ke emiten.

Window Dressing

Aktivitas yang dilakukan oleh pihak Manajer Investasi dengan tujuan mempercantik kinerja dengan cara mengangkat harga saham yang ada di dalam portofolio. Aktivitas ini biasanya dilakukan di akhir kuartal, akhir semester, dan akhir tahun.

Dividen

Dividen merupakan pembagian keuntungan yang diberikan perusahaan kepada para pemegang saham perusahaan. Pembagian dividen bisa dalam bentuk tunai atau dalam bentuk pembagian saham.

Dividen Kas

Istilah ini masih berkaitan dengan sebelumnya yang artinya bagian laba yang akan dibagikan oleh perusahaan kepada para pemegang saham dalam bentuk uang tunai.

Dividen Saham

Sedangkan Dividen Saham merupakan bagian laba yang akan dibagikan kepada para pemegang saham dalam bentuk saham.

Earning Per Share (EPS)

Laba bersih yang dihasilkan per saham yang dimiliki oleh sebuah perusahaan. Cara mendapatkan nilai tersebut adalah laba bersih dibagi dengan jumlah saham yang beredar.

Financial Statement (Laporan Keuangan)

Sebuah laporan yang dikeluarkan oleh perusahaan secara periodik dan disusun berdasarkan prinsip akuntansi yang diterima secara umum. Laporan ini akan menyajikan kondisi keuangan yang dialami perusahaan dan bisa dilihat dalam laporan Neraca, Laba/Rugi. Laporan Perubahan Modal, dan yang lainnya.

 

Daftar Istilah Saham Dalam Transaksi 
Lot

Lot merupakan satuan terkecil perdagangan di dalam pasar Bursa dan berjumlah sebesar 100 lembar saham. Jadi jika harga saham perlembar Rp 2000,00 anda minimal membeli dengan Rp 200.000,00 / lot

Offer

Penawaran untuk menjual suatu saham pada Bursa yang dilakukan oleh pihak penjual. Harga penawarannya adalah Offer Price.

Bid

Permintaan untuk membeli suatu saham pada Bursa yang dilakukan oleh pihak pembeli. Harga permintaannya disebut Bid Price.

Take Profit

Aksi yang dilakukan oleh pihak investor untuk melakukan transaksi menjual saham dengan tujuan mendapatkan keuntungan atau Capital Gain.

Cut Loss

Aksi yang dilakukan oleh pihak investor untuk mengurangi kerugian yang diakibatkan oleh Capital Loss dengan cara menjual saham dalam keadaan rugi.

Stop Loss

Beberapa sumber mengatakan bahwa stop loss dan cut loss itu sama saja. Tetapi menurut saya Stop Loss itu terencana dan Cut Loss itu tidak. Jadi Investor memang merencanakan batasan kerugian akibat penurunan harga kapital / Capital Loss sampai sejauh mana kerugian yang berani ditanggung oleh Investor.

Capital Gain / Capital Loss

Merupakan harga saham itu sendiri. Ketika harga saham meningkat disebut peningkatan kapita / Capital Gain. Dan disebut Capital Loss jika terjadi sebaliknya.

 

Itulah berbagai istilah yang ada di pasar saham atau pasar modal. Semoga berbagai istilah yang telah kami sampaikan di atas bisa membantu Anda yang baru masuk dan mulai berinvestasi di pasar modal.

Jika Anda memiliki pertanyaan yang berkaitan dengan pembahasan di atas, jangan ragu untuk mengajukan pertanyaan kepada kami melalui kolom komentar yang ada. Kami dengan senang hati menjawab setiap pertanyaan yang masuk.

Selamat berinvestasi!

Sumber : caramudahinvestasi.com

Mungkin Anda pernah berpikir seperti itu. Pendiri Stockbit, Welson Lo, melempar isu ini menjadi diskusi di sana. Saya juga ingin mengulas ini di sini. Apakah value investor pernah salah?

Seorang Value Investor Dianggap Sering Benar

Value investor yang terkemuka banyak sekali. Dari Amerika kita kenal Warren Buffett, Charlie Munger, dan kita bisa anggap Peter Lynch juga. Generasi muda murid-murid mereka juga banyak. Di Indonesia pak Lo Kheng Hong dikenal menganut paham ini. Murid-murid yang terinspirasi dengannya saya duga juga banyak.

Yang unik dari banyak value investor itu adalah mereka tidak malu berbagi kisah kinerja investasinya. Kisahnya tentu bukan pamer jumlah dana, dengan pengecualian Buffett yang menjadi buku terbuka inspirasi semua orang. Biasanya hanya persentase perolehan investasi. Kita tahu jumlah dana itu relatif. Sementara mengukur kinerja perolehan adalah akan bisa dinggap adil dalam menilai banyak orang. Dari kinerja mereka kita bisa belajar apa yang mungkin bisa dianggap ternyata value investor banyak benarnya. Seakan-akan bisa bilang, “Tuh, kinerjanya bagus-bagus semua.”

Padahal, saya kira kinerja value investor juga bervariasi. Tergantung strategi dan gaya masing-masing. Juga keberuntungan dan kondisi mereka berbeda. Banyak yang bergaya kontrarian. Ada yang bergaya konsentrasi ala Munger. Ada yang bergaya miliki selamanya (hold forever) ala Buffett. Ada yang bergaya pegang minimalis ala Walter Schloss. Ada yang bergaya long-short seperti David Einhorn. Saya tak paham gaya Pak LKH karena saya belum pernah ketemu beliau. Seandainya ada kesempatan saya akan tanyakan. Yang saya pahami selama ini adalah LKH suka nilai murni sebagai titik awal investasinya. Mayoritas value investor memang berangkat dari nilai murni ala Graham. Perusahaan senilai 100 kok dijual 50. “Salah harga,” kata pak LKH. Di sisi lain, seperti keputusan LKH di BUMI, saya tak paham. Saya juga tak tahu apakah dia masih mengempit saham ini atau tidak. Dalam keputusan LKH di BUMI ada value investor yang tak sepakat, termasuk saya.

Oke, kembali ke topik. Sekarang, jika value investor dianggap sering benar, pertanyaannya: apakah value investor pernah salah?

Value Investor Pernah Salah?

Jawaban standar tentu saja: iya. Setiap value investor pasti pernah salah. Ragam, model, dan jumlah kesalahannya tentu beda-beda lagi.

Lalu, jika pernah salah, kenapa kinerja mereka masih bagus-bagus saja? Nanti akan saya ulas.

Saya kira jenis kesalahan dalam sebuah operasi investasi ada beberapa macam, di antaranya:

  1. Kesalahan analisa
  2. Kesalahan data
  3. Kesalahan variabel atau asumsi
  4. Kesalahan waktu keluar investasi
  5. Kesalahan karena faktor luar, seperti perubahan siklus bisnis

Apa yang dilakukan value investor jika melakukan kesalahan?

Kesalahan Analisa

Kesalahan ini bisa terjadi karena kesalahan personal. Ceroboh. Salah hitung. Kurang teliti. Dan seterusnya. Ya, namanya juga manusia.

Tapi, sejauh yang saya rasakan dan saya amati, rasanya value investor punya strategi lain untuk mengurangi kesalahan ini.

Umpama ada saham ABCD masuk pantauan. Terlihat murah. Value investor membeli saham tersebut dalam porsi sedikit dibanding portonya. Sekadar untuk memantau. Setelah itu ia menganalisa lebih dalam saham tersebut. Istilah keennya, analisa fundamental. Biasanya, setelah mantap dengan analisisnya, seorang value investor akan berani masuk dalam porsi lebih besar di sebuah saham. Itu skenario umumnya.

Bagaimana jika sudah analisa mendalam tapi salah? Ya, salah. Mau gimana lagi. Namun, karena alur kerja pembuatan keputusan investasi yang hati-hati, kesalahan seperti ini saya kira jarang terjadi. Seandainya pun ada, realisasi rugi pun tidak membuat besar kerugian yang parah. Ingat, besar porsi masuknya investasi biasanya tergantung keyakinan analisa, baik buruknya nilai saham tersebut.

Kesalahan Karena Data

Ini pernah saya alami pada awal dulu. Bahkan pernah terjadi berkali-kali. Namanya juga manusia. Sekarang pun kadang masih sering salah data. Maka benar, kunci value investor adalah akurasi data. Data dari sumber terpercaya selalu penting. Data yang berbunyi. Data yang bisa terkonfirmasi jujur dan layak pakai. Data yang bertanggungjawab.

Kesalahan Variabel atau Asumsi

Ini juga jenis kesalahan lain yang menyakitkan. Dalam model valuasi kita buat asumsi pertumbuhan modal kerja 10%. Setelah masuk, ternyata asumsi kita salah, seharunya modal kerja perusahaan 20% dari arus kas, karena ada faktor potensi kenaikan harga energi dan listrik di masa mendatang. Ini adalah kesalahan umum yang terjadi.

Kesalahan Waktu Keluar Investasi

Wah kok bisa salah waktu keluar? Maksudnya jual terlalu cepat? Ya.

Saya haqqul yakin tidak ada value investor yang merasa salah waktu masuk investasi saham. Jika sebuah saham sudah salah harga dan value investor yakin dengan fakta-fakta yang diyakininya, masuk saat itu, kapan pun, adalah keputusan yang tepat. Bagaimana jika sahamnya ternyata turun lagi? Tidak masalah, beli lagi, jika ada dana. Value investor harus selalu siap dengan dana kas saat mereka masuk ke saham tertentu. Seandainya tak ada dana lagi ya tak masalah. Bukan kesalahan.

Nah, yang dianggap salah ada keluar terlalu cepat. Setelah menjual investasi dengan keuntungan 30%, ternyata sahamnya masih naik lagi hingga 70% atau lebih. Manyun, dong? Ya, jika value investornya suka manyun, mungkin dia akan seperti itu.

Tapi jenis kesalahan ini saya kira juga macam kesalahan yang ringan. Saya kira value investor tidak akan terlalu menganggap ini kesalahan fatal. Keputusan investasi sudah dibuat. Ya sudah, terjadi. Apa pun yang terjadi harus selalu diterima. Dana bisa dialihkan ke saham lain yang masih dijual murah di pasar.

Maka ada kalanya jenis value investor yang memilih hold lebih lama untuk mengantisipasi faktor salah waktu keluar investasi ini. Adalah kenyataan saham mengikuti pertumbuhan perusahaannya. Jika bisnis berpotensi tumbuh seterusnya, dengan sedikit naik-turun, tentu saja sangat disayangkan keluar terlalu cepat, kan? Lebih baik mengikuti perusahaan itu seterusnya. Itulah landasan banyak value investor menjadi pemilik perusahaan lebih lama.

Kesalahan Karena Faktor Luar

Ini adalah jenis kesalahan yang paling gampang diantisipasi. Ya, lupakan saja. Faktor luar adalah kondisi yang tak mungkin bisa dinegosiasikan oleh siapa saja. Ini adalah jenis kesalahan yang rasionalisasinya gampang. Lupakan dan hindari.

Apa yang Dilakukan Value Investor Ketika Salah?

Keluar dari saham itu secepatnya. Jual semuanya. Sell all. Lalu lupakan.

Kalau sedang rugi bagaimana? Ya lupakan. Rugi adalah risiko yang mungkin terjadi, jika kita salah. Memangnya value investor tak pernah jual rugi? Pasti pernah. Apalagi rugi karena kesalahan. Itu adalah keputusan investasi yang wajib dilakukan, demi mengurangi potensi kerugian selanjutnya. Ingat, turunnya kinerja perusahaan di masa mendatang adalah potensi kerugian investasi karena sahamnya bisa diperkirakan akan turun.

Ibarat jalan lalu menginjak cat basah. Ya, mau gimana lagi, sepatu sudah basah tak bisa diralat lagi.

Sekarang, apakah Anda pernah melakukan kesalahan investasi? Ataukah Anda punya jenis kesalahan value investor lainnya yang ingin ditambahkan.

Artikel by: ARIF

Seperti pekerja lainnya, saya bekerja giat dengan harapan bisa jadi orang kaya. Kaya di sini berarti mapan atau nggak ada kekhawatiran finansial, baik sekarang mapun di masa depan. Untuk itu, saya pun menekan pengeluaran semaksimal mungkin agar bisa menabung sebanyak mungkin. Ya, seperti kata pepatah, hemat pangkal kaya!

Namun, lama-lama saya jadi heran. Pasalnya saya punya saudara yang pendapatannya nggak jauh lebih banyak dari saya. Kalau dilihat dari gaya hidup, sama sekali nggak mencerminkan sifat hemat. Tapi anehnya, kok dia sempat cerita, “Nanti kalau anakku mau masuk kedokteran, insyaAllah dananya udah tersedia!”

Saat ini, anaknya masih kelas 1 SD.

Bagaimana mungkin dengan pendapatan dan gaya hidup yang pasti nggak bisa menabung, di masa depan bisa menyekolahkan di jurusan kedokteran?

1. Kerja cerdas

Beruntung saudara saya nggak pelit informasi. Dia bercerita kalau ingin penghasilan nggak defisit, ya kuncinya dengan bekerja lebih giat. Bukan malah menekan pengeluaran. Dengan adanya pekerjaan sampingan, justru menghasilkan uang lebih besar daripada sejumlah rupiah yang harus ditekan. Iya, saudara saya memiliki pekerjaan sampingan yang lebih besar dari gajinya.

2. Nggak perlu menekan pengeluaran

Ini kelanjutan dari poin di atas. Benar kata saudara saya, nggak perlu menekan pengeluaran agar bisa menabung. Bekerja lebih giat dan memiliki pekerjaan sampingan adalah salah satu solusinya. Adapun efek dari menekan pengeluaran adalah nggak bisa menikmati hidup. Bahkan, bisa jadi sebenarnya kebutuhan agak urgent, tapi terpaksa harus ditekan. Kan, sayang!

Bekerjalah yang giat, terus berkarya, dan nikmati hidup agar selalu bahagia. Tapi saudara saya juga menambahkan, tetap saja dalam pengeluaran harus bertanggung jawab. Boleh mengeluarkan uang lebih, jika untuk hal yang positif. Misalkan, lebih baik mengeluarkan uang Rp200 ribu untuk membeli buku daripada Rp100 ribu untuk mainan yang kalau ditelaah lagi nggak menambah kreativitas anak. Toh, buku tersebut bisa dipinjamkan untuk adik atau sepupu yang lain.

3. Memilih nggak nabung

Saudara saya sendiri memilih untuk nggak nabung. Kalaupun ada saldo di tabungan, itu untuk kebutuhan jangka pendeknya saja. Kenapa dia nggak milih untuk menabung? Setelah dihitung-hitung, bunga yang diberikan bank nggak akan menutupi biaya admistrasi. Bahkan justru malah selalu berkurang. Lalu apa gunanya jika menabung hanya untuk mengurangi jumlahnya? Apalagi laju inflasi juga cukup tinggi.

Pemerintah sering mengumumkan lajunya hingga 1,5% atau 5,7%. Padahal, fakta di lapangan bisa lebih daripada angka itu. Artinya uang Rp20 juta yang mati-matian dikumpulkan dalam satu tahun, dua tiga tahun lagi nilai-manfaatnya udah nggak sebanding dengan Rp20 juta di masa kini. Bayangkan saja, deh! Nabung tiap bulan biar bisa beli motor tahun depan. Eh, tahun depan harga motor udah lebih dari Rp20 juta!

4. Investasi

Lalu solusinya apa jika nggak punya tabungan? Ternyata saudara saya memilih mengalokasikan uangnya untuk berinvestasi. Investasi bisa bermacam-macam. Bisa reksa dana, saham, emas, dan properti. Saudara saya sendiri menggunakan uang proyeknya untuk investasi emas. Lalu lama-kelamaan, ia mulai merambah ke dunia properti. Memang agak berat di awal dalam mengelola uang. Namun kembali lagi. Saudara saya memang harus bekerja lebih giat baik utama ataupun sampingan, agar dalam investasi properti ini nggak keteteran.

Mulai sekarang, ada baiknya nggak menelan mentah-mentah bunyi pepatah ‘hemat pangkal kaya’. Mungkin dulu memang ada benarnya. Tapi zaman sudah berubah. dalam perekonomian global semacam ini, nggak mungkin hanya cukup mengandalkan tabungan saja. Boleh saja berhemat untuk menabung. Tapi alangkah lebih baik jika hemat agar bisa berinvestasi, tanpa menurunkan standar hidup. Cerita dari saudara saya di atas, mungkin bisa membantu kamu. Selamat mencoba, ya!

Sumber: Tunaiku.com

Jika Anda sudah membaca berbagai artikel yang ada di website ini, tentu Anda sudah tahu kalau berinvestasi di pasar saham merupakan investasi yang menguntungkan, bahkan hasilnya lebih besar dari emas. Mungkin juga Anda sudah membuka rekening saham di salah satu sekuritas, tetapi masih bingung bagaimana cara terbaik berinvestasi saham. Berikut adalah beberapa tips berinvestasi saham bagi investor pemula.

1. Mulai dengan modal tidak terlalu besar. Jika Anda belum terlalu mengenal pasar saham, disarankan untuk memulai dengan modal minimal terlebih dahulu. Tujuannya bila salah langkah, kerugian yang diderita tidak terlalu besar. Tujuan lainnya adalah untuk proses belajar. Anda perlu membiasakan diri pada software untuk jual beli saham, belajar analisis saham dan sebagainya dan semua itu perlu waktu. Jika sudah mantap, silakan menambah modal Anda. Bukankah perjalanan 1000 km dimulai dengan satu langkah kaki?

2. Beli saham yang berfundamental baik. Biasanya adalah saham blue chip. Cirinya perusahaan ini dikenal publik, punya usaha yang jelas, produknya laku di pasaran, tidak banyak utang, manajemen transparan dan sebagainya. Jangan tergiur untuk membeli saham gorengan yang pergerakan harganya tidak jelas sebabnya. Mengapa memilih saham blue chip? Saat pasar saham terkoreksi, saham blue chip juga terkoreksi, tetapi setelah pasar saham pulih, saham blue chip juga yang bergerak naik lebih dulu dan lebih cepat dari yang lain.

3. Lakukan diversifikasi. Belilah beberapa jenis saham untuk membagi risiko. Memiliki banyak saham memiliki risiko kerugian lebih kecil dari pada membeli hanya satu jenis saham. Jika satu saham berkinerja turun, kemungkinan saham lain bisa naik. Don’t put all your eggs in one basket.

4. Belajar melakukan analisis. Anda perlu mengetahui cara analisis saham untuk menentukan keputusan jual atau beli saham. Ada dua cara analisis yang umum dilakukan, yaitu Analisis Teknikal, dan Analisis Teknikal. Anda bisa membaca buku Analisis Teknikal Untuk Profit Maksimal dan Analisis Fundamental Saham untuk mengetahui masing-masing analisis tersebut lebih lanjut.

5. Fokus pada jangka panjang. Pasar saham sangat berisiko dalam jangka pendek karena fluktuatif. Namun akan lebih aman dalam jangka panjang. Semakin lama investasi, semakin besar tingkat keuntungan. Berdasarkan sejarah pasar saham, terbukti bahwa jika kita investasi berupa saham dalam jangka panjang, maka peluang meraih return sebesar 12,9% ada didepan mata. Catatan: Angka ini didapat dari perhitungan imbal hasil IHSG dalam jangka panjang. Penjelasan cara menghitungnya bisa dibaca di buku Analisis Fundamental Saham hal 130

6. Lakukan analisis dan review portofolio secara berkala. Bisa setiap 3 bulan sekali, 6 bulan sekali, atau setahun sekali. Jika ada saham yang kurang bagus kinerjanya, misalnya produknya gagal di pasaran, merugi, dan sebagainya bisa diganti dengan saham lain yang lebih baik.

Dengan melakukan langkah-langkah di atas, kemungkinan Anda meraih keuntungan di pasar saham akan lebih besar. Selamat berinvestasi di pasar saham.

oleh
Desmond Wira

Mungkin inilah zaman pertemuan dua generasi yang paling membingungkan sepanjang sejarah. Ini bukan soal generasi kertas vs generasi digital semata. Melainkan soal di mana dunia kita berada, sehingga ekonomi menjadi berubah arah dan banyak yang bangkrut. Ini juga bukan soal kebijakan ekonomi, ini soal teknologi yang mengubah platform hidup, ekonomi dan kehidupan.

Saya menyebutnya shifting, tetapi sebagian besar ekonom “tua” menyebutnya resesi, pelemahan daya beli dan seterusnya. Saya menyebut apa yang dilakukan generasi Nadiem Makarim sebagai inovasi, bahkan disruption. Tetapi manajer-manajer “tua”, bilang mereka “bakar uang.” Mereka bilang retail online kecil, tapi anak-anak kita bilang “besar”.

Saya bilang mereka punya “business model,” tetapi regulatornya bilang itu sebagai industri predator. Maka regulasinya pun berpihak ke masa lalu.

Hari semakin petang saat satu persatu usaha konvensional berguguran, tetapi saya belum melihat yang tua ikhlas menerima proses shifting ini. Mengakui belum, blame jalan terus, tetapi usaha-usaha lama bakal berguguran terus.

Dari armada laut ke retail dan bank

Tiga tahun lalu kita membaca tentang keributan dalam industri jasa angkutan penumpang taksi. Di sini mulai ramai pertempuran antara ojek pangkalan vs. Go-Jek. Lalu antara pengemudi angkot dengan Go-Jek. Disusul demo sopir taksi melawan taksi online.

Tahun lalu, korbannya adalah angkutan laut dan hotel. Produsen kapal asal Korea (Hanjin) meminta perlindungan bangkrut. Lalu disusul oleh Maersk dan Hyundai. Setelah itu Rickmers Group (Jerman), Sinopacific Dayang, Wenzhou Shipping dan Zhejiang (China). Jumlah kapal yang dibutuhkan oleh perdagangan dunia sudah berubah menyusul penggunaan telekomunikasi dan aplikasi baru yang serba tracking dan perubahan pola peletakan industri global.

Setelah itu tahun ini kita melihat empat industri: mainan anak-anak, retail, perbankan dan industri-industri tertentu. Level of competitionmeningkat, dan pendatang-pendatang tertentu masuk dengan platform baru. Industri mainan anak-anak Indonesia mengeluh penjualannya drop 30%, karena masih mengandalkan mainan berbahan plastik. Jangankan mainan anak-anak seperti itu, boneka Barbie saja pun kena imbas. Bahkan Toy ‘R’ Us di Amerika mengajukan pailit.

Sementara industri mainan anak-anak konvensional kesulitan, industri pembuatan game online di Indonesia berkembang pesat. Diduga omsetnya mencapai USD 10 juta.

Kita juga membaca satu per satu retail di Indonesia menutup outletnya. Terakhir Debenhams dan Lotus. Tapi nanti dulu, itu bukan cuma terjadi di sini. Di USA, tahun ini saja sudah 1430 toko milik Radio Shack yang ditutup, lalu 808 outlet milik toko sepatu Payless, 238 outlet Kmart, 160 toko Crocs (sepatu), 138 outlet JC Penny, 98 Sears, 68 Macy’s, 70 outlet CVS, 154 toko untuk Walmart, 128 outlet Michael Kors dan seterusnya.

Dari Jepang pagi ini saya mendengar Mizuho Bank akan mengurangi 19.000 dari 50.000 karyawannya setelah keuntungannya banyak dimakan fintech. Ini sejalan dengan bank-bank nasional yang mulai melakukan hal serupa, minimal tak lagi membuka cabang baru.

Jadi kalau kita melihat baru beberapa toko besar yang ditutup di sini, dan mulai sepinya belanja di Glodok dan toko grosir Tanah Abang, maka sesungguhnya itu belum seberapa. Ini baru tahap awal. Nanti, saya bisa ceritakan bahwa, brand pun berubah bagi millennials: branded (luxuries)akan menjadi public brand.

Bencana atau peluang

Shifting tentu berbeda dengan krisis atau resesi yang lebih banyak dipandang sebagai bencana yang amat memilukan. Shifting dapat diibaratkan Anda tengah bermain balon eo’. Masih ingatkah balon yang terdiri dari dua buah dan berhubungan. Kalau yang satu ditekan, maka anginnya akan pindah ke balon yang besar dan berbunyi eo’, eo’ …

Ya seperti itulah. Angin berpindah, lalu ada yang terkejut karena terjepit dan ruangnya hampa. Manusia-manusianya akan bertingkah polah mirip cerita Who Moved My Cheese. Manusianya bolak-balik kembali ke tempat yang sama dan berteriak-teriak marah, “kembalikan keju saya! Kembalikan! Duh, siapa yang mencurinya? Siapa yang memindahkannya?”

Padahal, menurut Ken Blanchard & Johnson yang menulis perumpamaan itu, keju adalah simbol dari apa saja yang membawa kebahagiaan. Ia bisa berupa kue, pekerjaan, kekasih, kekayaan, perusahaan, atau bahkan keterampilan. Dan semuanya tak abadi, bisa pindah atau dipindahkan “ke tempat” lain.

Dan di dalam cerita itu disebutkan ada dua ekor tikus yang selalu bekerja dan mencari “keju” itu ke tempat lain. Anda yang mempunyai “Shio” tikus barangkali punya perilaku yang sama: tak bisa diam di tempat. Nah, keduanyalah yang menemukannya. Ternyata di tempat lain itu ada keju-keju lain yang sama nikmatnya dan jauh lebih besar.

Mereka menuding resesi atau daya beli itu ibarat “manusia” tadi. Tidak bisa melihat keju yang telah berpindah ke tempat lain. Ia hanya mengais rejeki di tempat yang sama. Resesi atau lemahnya daya beli, kalau balon, maka itu diibaratkan satu balon yang mengempis atau kalau krisis, balonnya pecah.

Dan harap diketahui kita baru saja berada di depan pintu gerbang disruptions. Saya harap Anda sudah membaca bukunya. Dalam proses disruption itu, teknologi tengah mematikan jarak dan membuat semua perantara (middlemen) kehilangan peran. Akibatnya margin 20-40% yang selama ini dinikmati para penyalur (grosir – retailer) diserahkan kepada digital marketplace (± 5%), seperti Tokopedia, Bukalapak, OLX, dan konsumen. Konsumen pun menikmati harga-harga yang jauh lebih terjangkau.

Ditambah lagi, kini generasi millennials telah menjadi pemain penting dalam konsumsi. Dan tahukah Anda, setidaknya satu dari beberapa anak Anda telah menjadi wirausaha baru. Mereka beriklan di dunia maya seperti di Faecbook dan Instagram, dan mendapatkan pelanggan di sana, berjualan di sana, dan perbuatannya tidak terpantau regulator bahkan orang tua mereka sekalipun.

Di era ini, para pengusaha lama perlu mendisrupsi diri, membongkar struktur biaya, bukan bersekutu dengan regulator, mengundang kaum muda untuk membantu meremajakan diri, agar siap bertarung dengan cara-cara baru. Biarkan saja kaum tua meratapi hari ini dengan mengatakan daya beli, krisis, atau resesi.

Dunia ini sedang shifting. Orang tua-orang tua muda sedang memangku cyber babies, kaum remaja terlibat cyber romance. Mereka belajar di dunia cyber, dan menjadi pekerja mandiri. Dan masih banyak hal yang akan berpindah, bukan musnah. Ia menciptakan jutaan kesempatan baru yang begitu sulit ditangkap orang-orang lama, atau orang-orang malas yang sudah tinggal di bawah selimut rasa nyaman masa lalu.

Ayo nikmati shifting ini.

Rhenald Kasali

NEW YORK, KOMPAS.com – Siapa tidak kenal Warren Buffett? Ia adalah investor kenamaan yang juga merupakan salah satu orang terkaya di dunia.
Buffett dikenal karena keahlian dan kejeliannya dalam berinvestasi hingga memperoleh keuntungan besar. Untuk memperoleh kekayaan pun, banyak kiat yang beredar, namun kebiasaan keuangan Buffett bisa Anda tiru.
Mengutip Readers Digest, Senin (18/9/2017), 4 kebiasaan Buffett ini patut ditiru untuk memperoleh kekayaan.

Readers Digest, Senin (18/9/2017), 4 kebiasaan Buffett ini patut ditiru untuk memperoleh kekayaan.

1. Berpikir seperti wirausahawan
Semangat wirausaha yang dimiliki Buffett membantunya dalam menemukan kesempatan untuk memperoleh tambagan kekayaan. Apapun pekerjaan Anda, jika Anda butuh kekayaan tambahan, pasti selalu ada kesempatan untuk melakukannya.
2. Investasi
Salah satu kesempatan yang dimaksud adalah dengan berinvestasi. Hampir seluruh kekayaan Buffett berasal dari investasi, yang nyatanya bisa dilakukan oleh siapa saja, tanpa peduli berapa usia Anda atau pendapatan Anda.
3. Minimalkan pinjaman
Terus-menerus meminjam uang akan membuat Anda rugi dan merupakan salah satu kesalahan terburuk dalam keuangan. Belajar dari pengalaman Buffett, meminjam uang hanya dilakukan saat “kepepet,” atau ketika Anda benar-benar harus melakukannya.
4. Belanja sesedikit mungkin
Yang harus dilakukan adalah mengidentifikasi kebutuhan Anda dan apa yang bisa Anda pangkas dari bujet Anda. Belanja lebih sedikit dari pendapatan dapat membuat Anda lebih banyak menabung dan berinvestasi.
Editor: Bambang Priyo Jatmiko
Sumber: Reader Digest,

Reader Digest,