Bandung, Euy!

Posted: Maret 26, 2007 in Kuliner

Berapa kali pun Anda ke Bandung, selalu ada saja hal baru yang dapat Anda temukan. Padahal, seringkali temuan itu sebenarnya adalah “barang lama”. Masalahnya adalah karena kebanyakan kita mempunyai cara pikir terpola. Misalnya, setiap kali berada di dalam pesawat menuju ke Semarang, saya selalu langsung membuat catatan mental tentang tempat-tempat makan yang ingin saya datangi. Berpikir seperti itu membuat kita harus membongkar arsip lama dalam pengalaman kita. Hasilnya? Kita akan terus mengulang-ulang kenangan lama dan makan di tempat-tempat favorit kita. Tetapi, dengan cara seperti itu, kita akan jarang menemukan tempat-tempat makan baru.   

Itulah yang terjadi pada diri saya ketika beberapa bulan yang lalu datang ke Bandung, dan menemukan – misalnya – Ceu Mar yang sekarang menjadi unforgettable bagi saya. Lalu saya memukul kening sambil menyesali: “Kenapa tidak dari dulu saya tahu tempat ini, ya?”

Kuncinya adalah: come with an open mind! Datanglah dengan pikiran dan hati terbuka. And you will discover! Wuah, bunyinya kok jadi seperti promosi pariwisata, ya?

Maka, ketika suatu malam berada di Bandung, muncullah keinginan untuk mencicipi sebuah penganan yang populer disebut perkedel bondon. Nama yang mengerikan, memang. Maklum, bondon dalam bahasa Sunda berarti ladies of the night yang masih muda belia. Begitulah nasibnya seorang yang bernama Bondan. Salah satu huruf menjadi bondon di Sunda. Salah satu huruf yang lain menjadi pondan dalam bahasa Malaysia yang berarti bencong.

Mengapa perkedel yang satu ini disebut perkedel bondon? Karena primadona yang pulen ini nongol-nya baru menjelang tengah malam. Ha ha ha, penamaan yang sungguh asosiatif. Dan kreatif. Tetapi destruktif!

Perkedel bondon adalah sajian andalan dari sebuah warung di Jalan Kebonjati, masuk emplasemen stasiun lama Bandung. Warungnya sendiri sudah buka sejak pukul sembilan malam. Jualannya standar. Nasi dengan lauk ayam, gepuk (empal), tahu, dan tempe.

Menjelang tengah malam, mulai muncul antrean di depan warung. Jangan heran kalau melihat beberapa tukang beca ikut antre. Mereka adalah joki yang berdiri di antrean untuk orang-orang yang memesan mereka agar datang lebih dulu. Mau tahu, siapa yang meniru siapa? Konon, model antrean seperti yang terjadi di BreadTalk dan J.Co Donuts baru-baru ini adalah marketing gimmicks untuk membuat jualannya laku. Siapa tahu, J.Co Donuts malah meniru taktik perkedel bondon?

Soalnya, begitu Anda lolos dari antrean dan mendapat beberapa potong perkedel bondon yang panas, maka rasanya sebetulnya tidak beda-beda amat dengan perkedel-perkedel kentang lainnya. Semua perkedel panas akan memberi sensasi rasa yang sama, yaitu crispy dan renyah di luar, pulen di dalam karena kentang yang ditumbuk sampai halus. Rasa asin yang berlebih juga tidak terasa ketika makanan masih panas, malah meningkatkan citarasanya.

Harga sepotong perkedel bondon Rp 600. Murah-meriah! Popularitas tidak membuat mereka pasang harga semau perut sendiri. Satu hal yang boleh dibilang unik tentang perkedel bondon adalah cocolannya. Perkedel dicocol pakai sambal terasi. Unik! East meets West!

Orang Sunda yang doyan pedas sejak setahun belakangan ini juga menemukan tempat makan baru yang dapat memuaskan sensasi bergetar di lidah mereka ketika tersentuh makanan yang lada pisan, mani seuhah. Puedessss, des des des! Nama rumah makan itu adalah “RM Asli Cibiuk”. Cibiuk adalah nama desa di dekat Garut yang memang terkenal karena kehebatan dan keunikan sambalnya.

Hampir semua bahan utama sambalnya berwarna hijau. Tomat hijau, cabe rawit hijau, blimbing sayur (wuluh), dan kemangi. Lalu ditambah bawang merah dan bawang putih, terasi, cikur (kencur), dan sedikit garam. Di cabangnya yang paling besar di Jalan Lengkong,
Bandung, para tamu boleh meracik dan mengulek sendiri sambal cibiuk ini. Tetapi, saya kecewa ketika singgah di cabang “RM Asli Cibiuk” di Cianjur dan Bogor, karena ternyata di
sana sambalnya dibikin di dapur.

Kalau pesan sambal cibiuk dari dapur, kita bisa memesan yang disebut sambal cibiuk ceurik. Maksudnya: super pedas. Pedasnya sariga jurig (seperti setan), barangkali. Bisa juga minta sambal cibiuk versi merah, yaitu memakai tomat merah dan cabe rawit merah. Tentulah tendangannya lain.

Popularitas “RM Asli Cibiuk” memang hebat. Dalam waktu singkat mereka sudah membuka cabang di berbagai tempat di Bandung dan di 11 kota lain. Yang di Bogor saja berhasil menggantikan sebuah rumah makan yang semula sudah cukup populer.

Selain sambalnya, “Sambal Cibiuk” juga terkenal karena pencok leunca (seperti karedok, tetapi dari leunca), nasi liwet kastrol, sangu tutug oncom, dan berbagai pepes serta ikan bakarnya. Ada juga tumis genjer oncom yang tidak boleh dilewatkan.

Ngomong-ngomong soal makanan pedas di Bandung, jangan lewatkan Rumah Makan “Manjabal II” di daerah Buah Batu (ada juga cabangnya di Jalan Pasteur. Favorit saya di situ justru bukan masakan super pedas, yaitu nasi goreng piritan. Berbagai jenis isi perut ikan mas ditumis dengan bumbu nasi goreng, lalu dimasukkan nasi. Wah, ini benar-benar heavenly. Jangan heran kalau menemukan beberapa bungkus nasi goreng piritan di freezer di rumah saya.

Konon nama Manjabal merupakan singkatan makanan jaman baheula. Dapat pula diartikan dalam bahasa Arab yang berarti orang gunung. Sebuah penamaan untuk menonjolkan ciri-ciri masakan tradisional Sunda. Ada pula singkatannya dalam bahasa Sunda lain: manjing jaya balarea yang artinya: sekalipun sedikit sudah cukup.

Hidangan andalan lain di “Manjabal II” adalah tumis genjer. Tumis genjernya boleh diacungi jempol. Gurih banget. Pemasakan genjernya juga tepat, sehingga tidak sampai keluar lender dan masih crunchy pula. Tingkat kepedasannya Anda sendiri yang pilih. Mau sedang, cukup pedas, pedas, sangat pedas, atau super pedas. Huu hah! Sambal dadak di “Manjabal II” juga bisa dipesan dengan tingkat kepedasan serupa.

Sejak dua tahun terakhir ini juga ada satu tempat makan favorit orang Bandung maupun orang-orang Jakarta yang jadi warga Bandung tiap hari Sabtu atau Minggu, yaitu “Pak Chi Met”. Jangan bingung dulu, dan tidak usah repot mencoba mencari kepanjangannya. Pak chi met dalam bahasa Thai berarti ketumbar. Namun, rumah makan yang sudah punya tiga cabang ini asli Sunda. Mereka yang sudah pernah singgah pasti setuju bahwa janji mereka yang tertulis besar-besar di papan – Raja Ikan Bakar – bukanlah janji palsu. Tinggal cari ratunya, lah! Mulan Kwok barangkali mau!

Lanskap kuliner Bandung memang terus berubah. Hampir semua jenis makanan, disajikan dengan berbagai tingkat harga, sekarang tersedia di Bandung. Sudah lewat zamannya untuk datang ke Bandung hanya karena ingin makan bakmi di Jalan Kejaksaan atau Lotek Kalipah Apo. Karena itu, Kawan, kalau datang ke Bandung lagi, buka hati dan pikiran Anda. Siapa tahu Anda akan menemukan combro yang chewy, lotek yang pedasnya bikin lieur, atau pepes perut ikan yang gurih.

Aiiiih, meni Sunda pisan!
Penulis: Bondan Winarno

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s