Mengukur Dalamnya Otak

Posted: Maret 26, 2007 in Artikel

Jepret! Jepret! Samuel Sutanto sibuk membidikkan kamera saku ke arah semburan api pipa gas Pertamina di Desa Besuki, Porong, Sidoarjo. Pipa gas itu meledak karena tak tahan menanggung panas lumpur Sidoarjo. Sebagai anggota Tim Nasional Penanggulangan Semburan Lumpur Sidoarjo, Samuel harus memeriksa apa yang terjadi sambil memotret semburan api.

Tak dinyana, ternyata sebuah foto semburan api itu mirip tulisan Arab berlafaz “Allah”. Hasil jepretan Samuel pun tersebar di media massa dan internet, Desember lalu. “Ini foto asli tanpa rekayasa,” kata Samuel. Hingga kini, foto lafaz Allah itu pun masih dibicarakan.

Sebenarnya “penampakan” ajaib bernuansa religius bukan sekali ini saja terjadi. Sebuah rumah bertingkat di Jalan Kramat V Nomor 24B, Jakarta Pusat, sempat membuat heboh pada 2001. Di salah satu kamarnya muncul bercak-bercak hitam yang kemudian membentuk gambar mirip Yesus Kristus.

Sebelumnya, cerita yang sama muncul di Kupang, Nusa Tenggara Timur, pada 1996. Ribuan warga di sana berduyun-duyun ke Gereja Protestan Siloam di Kampung Oehendak. Mereka ingin menyaksikan wajah Sang Juru Selamat yang muncul di salib menara gereja tersebut.

Penampakan seperti ini tak melulu terjadi di Tanah Air. Diana Duyser, warga Hollywood, Florida, terkejut ketika sedang asyik membuat sandwich. Tiba-tiba pada salah satu sisi rotinya muncul wajah Kristus. “Saya sangat terkejut dan gemetar,” tutur Duyser kepada wartawan, 2004. Percaya atau tidak, menurut laporan International Herald Tribune (IHT), Duyser kemudian menjual roti lapisnya itu ke situs eBay dan laku US$ 28.000!

Harga roti Duyser membubung tinggi karena para pembeli juga menyaksikan hal serupa. Apa yang menjadi penyebab penampakan ramai-ramai ini? Itulah yang menjadi pikiran Dr. Doris Tsao, ahli saraf dari Universitas Bremen, Jerman. Jawabannya terletak pada apa yang disebutnya sebagai “sel wajah” di otak.

Hasil penelitian Doris dimuat dalam jurnal Science, Oktober lalu. Tidak itu saja. Penelitiannya juga mendapat penghargaan bergengsi dalam bidang neurobiologi Eppendorf 2006 lewat karya ilmiahnya bertajuk “A Dedicated Cortical System for Processing Faces in Macaque Monkeys”.

Menurut Doris, otak bekerja bak pisau lipat multiguna. Ada pisau, gunting, obeng, dan sebagainya. Begitu juga otak. Ada bagian untuk melihat, mendengar, menyimpan memori, dan sebagainya. “Tiap-tiap bagian punya fungsi dan tugas khusus masing-masing,” kata Doris kepada IHT.

Doris kemudian menemukan, ada bagian tertentu di otak yang sangat reaktif ketika dihadapkan pada suatu wujud wajah. Itu terbukti ketika Doris menjalankan serangkaian percobaan pada sejumlah monyet. Di hadapan para primata itu disodorkan serangkaian benda berupa wajah, apel, jam beker, dan lainnya.

Doris menggunakan fMRI (functional magnetic resonance imaging) untuk memindai otak monyet. Alat ini berfungsi mengukur perubahan aliran darah ke bagian tertentu di otak. Ternyata fMRI mencatat, otak lebih reaktif ketika dihadapkan pada wajah ketimbang wujud yang lain. “Sejauh ini, ada tiga titik tertentu pada otak yang menunjukkan aliran darah lebih tinggi dibandingkan dengan bagian lainnya,” ujar Doris. Pada bagian itulah terdapat apa yang disebut Doris sebagai “sel wajah”.

Doris yakin, pola kerja otak monyet itu menyerupai manusia. Selama ini, para ahli masih kesulitan menentukan dengan tepat letak bagian otak yang berfungsi khusus mengenali wajah. Masalah ini terlihat jelas pada kasus penderita stroke. Pasien yang melewati masa krisis setelah serangan stroke umumnya dapat pulih hampir seluruh ingatannya kecuali mengingat wajah. “Karena itu, masalah sel wajah ini perlu diteliti lebih dalam,” tutur Doris.

Dalam percobaan lainnya, Doris mencatat, otak manusia dapat mengenal cepat wajah seorang aktor terkenal bahkan ketika wajahnya hanya berupa bayangan. “Ini menunjukkan, otak manusia memproses wajah secara keseluruhan seperti melihat pemandangan daripada melihat wajah hanya pada titik-titik tertentu,” kata Doris.

Itulah yang terjadi ketika manusia dihadapkan pada sebuah bentuk yang mirip dengan wajah. Sel wajah segera mendominasi dan mengasosiasikan bentuk itu sebagai wajah tertentu. Karena itulah, kemudian timbul serangkaian penampakan orang suci atau yang terkait dengan masalah religius.

Walau begitu, kalangan ilmuwan masih berdebat bahwa penampakan-penampakan itu terjadi tak melulu gara-gara sel wajah. Masih ada masalah “jiwa”, “persepsi”, dan “kesadaran” yang mempengaruhi cara kerja otak. Ibarat kata pepatah, dalamnya laut bisa diukur, dalamnya otak siapa yang tahu?

Nur Hidayat (dari berbagai sumber)
[Ilmu dan Teknologi, Gatra edisi 16 Beredar Kamis, 1 Maret 2007]

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s