Nagabonar 2.0

Posted: Maret 26, 2007 in Film

Perkenalan saya dengan Dedy Mizwar bermula lebih dari 20 tahun lalu. Tak lama kemudian, ia berjaya lewat film arahan almarhum Asrul Sani yang terkenal dan legendaris, Nagabonar. Beberapa bulan sebelum Lebaran tahun lalu, saya dan Bang Dedy Mizwar kembali bertemu. Beliau saat itu mengutarakan keinginannya membuat film kelanjutan Nagabonar, yaitu Nagabonar Jadi 2. Gilanya setelah 20 tahun berselang.

Saat itu, Bang Dedy antusias bercerita tentang ide dan potongan-potongan adegan. Saya dan beberapa teman sempat tertawa-tawa mendengarnya. Banyak yang konyol dan lucu. Bang Dedy lalu menawarkan sebuah kolaborasi untuk menerbitkan novel Nagabonar Jadi 2, setelah beliau tau bahwa saya juga berhasil menerbitkan novel film Biola Tak Berdawai.

Ajakan Dedy Mizwar tentu saja saya sambut dengan gembira. Apalagi, saya diberi akses tentang lika-liku pemasaran film di Indonesia. Sesuatu yang juga sangat menggelitik saya sebagai seorang pemasar. Hal mana kemudian terbukti menjadi pengalaman yang sangat unik.

Film sebagai industri kreatif Indonesia memang sedang berada di persimpangan jalan setelah mati suri sekian tahun. Pertama, kita masih sangat miskin sumber cerita. Di Amerika, misalnya, industri literatur yang sangat andal menawarkan sumber cerita dari novel, cerpen, dan sandiwara dalam jumlah sangat tidak terbatas. Di Indonesia, industri literatur kita tidak menawarkan sumber cerita yang kreatif. Jumlah buku dan kualitas buku yang diterbitkan masih sangat kecil jumlahnya.

Masih banyak sutradara kita yang kebanyakan bekerja dengan sumber cerita asli yang bukan dari industri literatur modern yang populer. Ide cerita itulah yang biasanya kemudian diserahkan kepada penulis skenario untuk dijadikan alur cerita sebuah film. Jadi, jangan protes kalau cerita film kita masih goyah dan tidak berlapis-lapis imajinasinya. Kebanyakan cerita film masih sangat sederhana. Kalaupun ada novel yang dibeli untuk sebuah film, harganya seringkali sangat murah, belum mencapai ratusan juta. Rata-rata novel yang dibeli untuk sebuah film harganya masih di bawah Rp 100 juta.

Permodalan film di Indonesia ceritanya juga sama sedihnya. Rata-rata film di Indonesia masih dibiayai dengan permodalan jauh di bawah Rp 10 milyar. Artinya, kalau dihitung dengan matematika Hollywood, sangat murah. Belum ada film Indonesia, misalnya, yang biaya produksinya mencapai ratusan milyar. Itu pun sangat susah dan jelimet mencari modal untuk membuat film. Perbankan nasional sama sekali tidak mau menyentuh film. Di samping risiko ruginya masih sangat tinggi, film tidak menawarkan jaminan pinjaman seperti bisnis lain yang lebih meyakinkan bank.

Di Indonesia, jumlah bioskop masih sangat terbatas pula. Bioskop yang bagus jumlahnya belum mencapai 100. Masih banyak kota di Indonesia yang tidak memiliki bioskop. Akibatnya, sistem distribusinya masih sangat terbatas. Mencapai jumlah penonton di atas 200.000 selama sebulan pemutaran film masih sangat sulit.

Hanya film-film sangat populer yang bisa satu minggu melewati 200.000-300.000 penonton. Misalnya film-film horor yang sedang populer saat ini. Malah tahun lalu masih ada film yang penontonnya tidak mencapai 100.000. Terpaksa modal film harus datang dari sponsor dan individu yang tertarik menjadi pemodal. Sistem ini membuat produser film harus mengemis modal sebelum membuat film.

Pemasaran film juga tidak kalah rumitnya. Di Indonesia belum ada aturan dan pakem yang baku. Lagi-lagi masih bergantung pada sponsor. Bayangkan kalau modal bikin film saja sudah kembang-kempis, apalagi uang promosinya. Produser film terpaksa mengemis lagi untuk mencari sponsor.

Jumlah sponsor juga sangat langka. Hanya produsen telekomunikasi, bank, dan rokok yang biasanya mau jadi sponsor. Karena bujet mereka biasanya lumayan gede dan memiliki akses promosi lumayan lengkap. Situasi yang sangat sulit dan penuh tantangan ini menyebabkan saya bersorak sangat gembira ketika Bang Dedy menawari saya untuk membantu beliau memasarkan Nagabonar Jadi 2.

Buat saya sebagai pemasar, film menjadi komoditas unik. Berlainan dengan komoditas yang lain, film memiliki usia sangat pendek. Satu minggu pertama film diluncurkan dan diputar, tes dan ujian terbesar terpaksa kita jalani. Kalau dalam satu minggu yang kritis itu film yang kita pasarkan gagal menyedot penonton, maka usia film menjadi sangat pendek dan bisa gagal total.

Pemasaran film membutuhkan big-bang yang bisa menciptakan hype pemasaran yang menular dan bikin heboh. Celakanya, nama besar artis dan sutradara seringkali tidak menjamin. Film membutuhkan kesempurnaan produk mulai dari cerita, pemain, sutradara, musik, lokasi, hingga pemasaran. Apa pun yang terjadi, pada akhirnya penonton tetap menjadi juri akhir yang menentukan. Saat ini, tidak ada lubang atau kesalahan yang membuat penonton mencela film Anda. Ini yang bikin kita deg-degan.

Kafi Kurnia

Komentar
  1. the Days After mengatakan:

    nagabonar jadi 2

    film yang diluar dugaan gue,..
    tobh,.
    menyatukan cinta ‘macemmacem’ jadi satu..
    ada sih beberapa pertanyaan yang nyangkut, tapi overall.. tobh

  2. mukhlis eko widodo mengatakan:

    JADIKAN DIRI SESEORANG NO.1 UNTUK BERJUANG
    ANDAI KESENANGAN ADALAH MENTARI
    DAN KESEDIHAN ADALAH HUJAN
    MAKA, HARUS MENJADI SATU UNTUK BISA MELIHAT PELANGI

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s