Saebah, Kasih Seorang Ibu

Posted: Maret 26, 2007 in Artikel

Nyonya Saebah (50) duduk menopang dagu dengan tatapan kosong di lorong selebar 1,5 meter, tepat di depan pintu rumahnya, beberapa hari lalu. Raut wajahnya tampak murung, seperti menyimpan sebuah persoalan besar.

Penduduk RT 06 RW 02, Kampung Tirem, Kelurahan Marunda, Cilincing, Jakarta Utara, itu sedang memikirkan nasib keluarganya. Ia baru saja selesai memandikan dua anaknya yang lumpuh layuh sejak kecil, Ahmad Syaefudin (16) dan Dewi Handayani (13).

Ahmad dibaringkan di lantai, sedangkan Dewi duduk di kursi. Saebah duduk di lantai, di antara kedua anaknya. Meski ia selalu berusaha senyum kepada tamu yang datang, wajahnya seolah terus memancarkan kisah-kisah sendu yang selalu mewarnai hidupnya hingga kini.

Suaminya, Endun (55), telah meninggal sebagai korban banjir pada 3 Februari 2007. “Saat itu suami memang sedang sakit-sakitan. Akibat cuaca dingin dan rumah terendam air setinggi pinggang orang dewasa, suami saya meninggal. Meski masih dalam keadaan berduka, saya dan dua anak ini harus mengungsi,” katanya.

Pada saat banjir, Ahmad dan Dewi dirawat 11 hari di Rumah Sakit Umum Daerah Koja, Jakarta Utara, tetapi tidak ada perubahan. “Meski kondisinya seperti ini, dokter mengatakan, dua anak saya ini sehat-sehat saja dan tidak ada yang perlu dikhawatirkan. Kami pun kembali ke pengungsian,” kata Saebah.

Saebah tidak bisa melupakan Endun. Semasa hidupnya, Endun telah berjuang mati-matian mencari nafkah dengan bekerja sebagai buruh serabutan. Pendapatannya tidak pasti. “Terkadang dapat uang, tetapi lebih sering pulang kosong,” kata Saebah. Endun sakit-sakitan diduga karena stres.

Beban hidup keluarga itu kini dipikul sendiri oleh Saebah. Ia tidak memiliki rumah sendiri, kesulitan mendapatkan makanan secara berkelanjutan, dan buruknya kondisi dua anaknya.

Endun tidak mewariskan harta apa pun buat istri dan dua anaknya yang cacat. Saebah dan dua anaknya kini masih tetap menumpang di rumah saudaranya, yakni Kasmi (48), yang juga seorang janda.

Menumpang

Rumah milik Kasmi berukuran 6 meter x 13 meter. Bangunan itu disekat untuk tiga keluarga. Selain keluarga Kasmi dan Saebah, masih ada lagi keluarga Acim. Mereka semua bersaudara. Sama seperti di ruangan lain, bagian yang ditempati keluarga Saebah sudah reyot. Dinding tripleks rusak terendam air. Atap genting banyak yang bolong.

Langit-langit rumah itu dipasangi lembaran plastik, untuk menghindari tirisan air hujan. Lantai yang dibuat dari semen sudah keropos di banyak titik, dan ruangan berukuran 4 meter x 6 meter yang ditempati Saebah dan dua anaknya itu membuat udara lembab.

Di sinilah Saebah menjalani perannya sebagai ibu, sekaligus bapak bagi dua anaknya. Hal tersulit baginya adalah bagaimana mencari nafkah dan merawat kedua anaknya agar tetap sehat meski cacat. Waktu, tenaga, dan pikiran tersita untuk dua anaknya itu.

Saat suaminya masih hidup, mereka berbagi tugas. Meski dengan susah payah, Endun selalu berusaha mencari nafkah, sedangkan Saebah mengurus dua anaknya dengan telaten. Endun bekerja apa saja asal bisa mendatangkan uang buat membeli kebutuhan sehari-hari.

Memasak, mencuci, memandikan anak, dan menyuapi mereka makan adalah rutinitas yang harus dijalani Saebah. Kini, setelah suaminya meninggal, ia dibebani lagi dengan pikiran bagaimana mendapatkan makanan buat mereka bertiga.

“Kalau saja saya mempunyai modal atau uang, mungkin saya bisa membuka kios sembilan bahan pokok. Saya akan berusaha untuk selalu berhasil. Sambil menjaga anak, saya bisa berjualan. Berangan-angan boleh kan?” katanya.

Mimpi dan lamunan mungkin hanyalah pelarian dari realitas hidupnya yang tetap pahit. Setiap hari hidup Saebah tercurah untuk mengurus dua anaknya, seperti menyuapi makanan dan memandikan mereka, ibarat mengurus bayi kembar. Tidak ada kesempatan mencari nafkah.

“Jika ada makanan sisa dari tetangga, kami pasti dikasih. Kalau tidak cukup, saya utamakan untuk dua anak ini,” katanya sambil menunjuk Ahmad yang terkulai di lantai, sementara Dewi, saat itu, duduk lemas di kursi.

Saebah lebih sering puasa karena kondisinya yang serba kekurangan itu. Ketika mendengar kabar dari tetangga yang menonton siaran televisi bahwa korban banjir yang rumahnya rusak akan mendapatkan bantuan, terbit pula asa dalam dirinya. Ia bertanya, “Apakah kami bisa mendapatkan bantuan itu?”

Namun, ia sadar, yang namanya bantuan pasti bukan saja terbatas dalam jumlah, tetapi sifatnya juga hanya sesaat. Paling penting bagi Saebah adalah modal untuk membuka kios atau warung, seperti yang dianganangankannya.

Saebah hanya bisa mengungkapkan apa yang membuatnya menderita dan berusaha merumuskan jalan keluarnya dalam angan-angan.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s