Dinasti Bush Dinasti Saud

Posted: Maret 27, 2007 in Artikel

Dinasti Bush Dinasti Saud

Penulis : Craig Unger
Penerbit: Diwan Publishing ( http://www.diwanpublish. com )

….Dengan Gayanya yang sekuler, flamboyan dan penuh percaya diri, Bandar selalu lumpuh oleh teror, dan selama 48 jam, tidak ada seorang pun yang dapat melakukan penerbangan. Tidak seorang pun, kecuali warga Arab Saudi.
Pada waktu yang sama saat tim medis Brian Cortez harus men-darat, Pangeran Bandar bin Sultan bin Abdul Azis, Duta Besar Arab Saudi untuk AS, sedang mengatur pengungsian 140 orang Saudi yang tersebar di seluruh AS. Termasuk di antara mereka adalah anggota dua keluarga: yang pertama adalah keluarga kerajaan Dinasti Saud, yaitu keluarga yang menguasai kerajaan Arab Saudi, yang berkat cadangan minyaknya yang berlimpah, tanpa diragukan lagi, menjadi dinasti terkaya di dunia. Keluarga kedua adalah kerabat dekat dan sekutu Dinasti Saud yaitu keluarga Binladenyang selain merupa-kan konglomerat pembangunan bernilai multi-milyaran dolar, juga telah melahirkan tokoh yang “terkenal “, Osama bin Laden.
Pada usianya yang ke-52, Pangeran Bandar telah lama menjadi tokoh Arab Saudi yang paling dikenal di Amerika. Pangeran Bandar, yang lebih dikenal sebagai “The Saudi Gatsby” dengan ciri khas jang-gut dan jas rapih, merupakan pribadi yang sangat kontradiktif; sebagai anggota kerajaan Dinasti Saudi ia bergaya hidup modern, berada di
kalangan jet set, dan belajar di Barat.
mengadakan jamuan makan mewah di rumahnya yang megah di seluruh dunia. Kapan pun ia bisa pergi dengan aman dari Arab Saudi dan melewati batas aturan ketat agama Islam yang dianut-nya, ia mengabaikan ajaran agama Islam dengan meminum brandy dan mengisap cerutu Cohiba. Pada saat mengikuti budaya Barat yang tak mengenal Tuhan, Bandar bisa mengalahkan siapa pun, bahkan para pengikut peradaban Barat yang paling fanatik sekalipun. Bandar juga merupakan orang yang menggemari pertandingan football dari tim Dallas Cowboys bersama temannya Jerry Jones, sang pemilik tim tersebut. Bagi pengikut fundamentalis Islam yang sudah jijik ter-hadap perilaku multi-milyuner anggota kerajaan Arab Saudi pro-Barat, tidak ada seorang pun yang lebih pantas untuk dibenci selain Bandar. Namun di balik penampilannya sebagai seorang playboy dunia Barat,
jauh dalam dirinya, Pangeran Bandar merupakan tokoh utama dalam dunia Islam. Ayahnya, Menteri Pertahanan Pangeran Sultan, merupakan orang kedua yang berhak atas mahkota kerajaan Arab Saudi. Bandar adalah kemenakan dari Raja Fahd, pemimpin Kerajaan Arab Saudi yang saat itu sudah lanjut usia. Ia juga merupakan cucu dari almarhum Raja Abdul Aziz, pendiri Arab Saudi modern yang memulai sejarah hubungan “minyak untuk keamanan” antara Arab Saudi dan AS saat ia bertemu Franklin D. Roosevelt di kapal USS Quincy di Terusan Suez pada tanggal 14 Februari 1945.4 Dinasti kerajaan yang sangat besar itu, tempat Bandar memiliki peran yang sangat besar, menjaga dua tempat paling suci agama Islam, yaitu Masjid suci di Madinah dan Makkah.
Sebagai seorang diplomat internasional yang cerdik, Ban-dar dengan jelas juga mengetahui betapa berbahaya posisi keluarganya. Selama puluhan tahun. Dinasti Saud berhasil mempertahankan kendali atas Arab Saudi dan cadangan mi-nyak terbesarnya di dunia yaitu dengan cara menjaga keseim-bangan antara dua pihak yang telah bersumpah
untuk meng-hancurkan satu sama lain.
Pada satu pihak, Dinasti Saud menganut sistem teokrasi Islam yang mendapat kekuatan dari persekutuannya dengan kelompok fundamentalis Wahabi, sebuah kelompok aliran Islam yang berusa-ha mempertahankan keaslian ajaran agamanya dan menjadi lahan subur bagi tumbuhnya jaringan garis keras dunia untuk melakukan jihad kekerasan
terhadap AS. Di lain pihak, sekutu terpenting Dinasti Saud adalah sang “Setan
Besar” itu sendiri, Amerika Serikat. Dengan pengamatan sekilas terhadap hubungan itu, terungkap adanya kontradiksi yang mengejutkan: Amerika sebagai negara sumber demokrasi, harus melindungi dan mempersenjatai negara kerajaan teokratis absolut.
Amerika Serikat sebagai negara yang bersumpah untuk membela Israel, ternyata juga merupakan penjamin keamanan bagi negara pengayom Islam Wahabi, sebuah aliran Islam fundamentalis yang merupakan salah satu musuh abadi Israel dan Amerika.
Juga secara mengejutkan, hubungan yang sensitif tersebut bukan hanya bisa bertahan, tetapi berlangsung sangat sukses. Dalam waktu hampir tiga dasawarsa sejak embargo minyak pada tahun 1973, AS telah membeli minyak, dengan harga yang masuk akal bernilai ratusan milyar dolar. Pada periode waktu yang sama pula, Arab Saudi telah membeli senjata bernilai ratusan milyar dolar dari AS. Arab Saudi juga telah mendukung AS dalam menangani masalah keamanan regional di Iran dan Irak, serta menahan diri untuk tidak bermain agresif melawan Israel.
Anggota keluarga kerajaan Arab Saudi, ter-masuk Bandar, telah menjadi milyuner dari waktu ke waktu, dan dengan proses diam-diam mereka telah menjadi pemain utama di pasar Amerika dengan investasi ratusan milyar dolar pada saham-saham di perusahaan AS.5 Sementara itu harga minyak, sebagai penentu utama dalam ekonomi, politik dan
kegelisahan budaya di Amerika, bisa terjaga cukup rendah sehingga
kendaraan bermotorseperti SUV yang rakus bensin tetap bisa ditemui di jalanan Amerika.
Selama era Presiden Reagan dan Clinton, kondisi itu menyebabkan perekonomian berhasil meningkat.
Hubungan tersebut merupakan jalinan antara uang, kekuasaan, dan kepercayaan. Hubungan itu bertahan karena dua pihak yang berlawanan yaitu fundamentalis Islam dan AS saling menutup mata. Militer Amerika mungkin menyebutnya sebagai kebijakan “jangan bertanya,
jangan bicara”. Al -Quran juga mempunyai versinya sendiri, yaitu: “Janganlah kau bertanya tentang hal-hal yang, jika dijelaskan kepadamu, bisa menyebabkan kesulitan untukmu.”6 Namun sekarang, segera setelah peristiwa 9/11, rahasia ter-sembunyi
mengenai hubungan itu telah terbuka. Karena ribuan orang tak berdosa telah terbunuh dan sebagian besar pembunuhnya dikatakan sebagai orang Saudi. Itu membuat Bandar harus meyakin-kan pemerintah Amerika bahwa hubungan antara Amerika dan Arab Saudi baik-baik saja. Bandar, yang selama ini selalu menjadi seorang perantara yang baik, kini dengan sikapnya yang tenang harus menghadapi ujian berat, yang tak pernah terjadi sebelumnya. Bandar berharap bahwa laporan awal yang menyatakan tentang peran
orang Arab Saudi dalam serangan teror itu hanyalah berita yang dibesar-besarkanter lebih lagi, agen Al-Qaeda diketahui menggunakan paspor palsu. Tetapi pada pukul 10:00 malam 12 September 2001, 36 jam setelah serangan tersebut, seorang agen tingkat tinggi CIA yang menurut majalah Newsweekmungkin adalah Direk-tur CIA, George Tenet menelpon Bandar di rumahnya dan membe-ritahukan kabar buruk bahwa 15 dari 19 orang pembajak adalah orang Arab Saudi. Setelah itu Bandar berkata, “Rasanya Menara Kem-bar itu baru saja jatuh di atas kepalaku.” Sistem hubungan masyarakat tidak pernah terasa begitu penting bagi Arab Saudi sebelumnya. Namun kini Bandar segera menyewa Burson-Marsteller, perusahaan public relation raksasa untuk memasang iklan
di seluruh surat kabar di AS yang isinya mengutuk serangan tersebut dan menyatakan bahwa Arab Saudi tidak ada hubungannya dengan serangan itu.8 Dia pergi ke CNN, BBC dan jaringan stasiun TV utama lain untuk terus mengatakan hal yang sama: hubungan Arab Saudi dengan AS masih kuat. Arab Saudi akan membantu AS dalam memerangi
terorisme.
Pangeran Bandar juga memprotes laporan media yang menyebut pihak-pihak yang terkait dengan terorisme sebagai “orang Saudi”. Saat menegaskan bahwa tidak ada teroris yang bisa disebut sebagai “warga negara Arab Saudi”, ia mendesak media dan politisi agar me-nahan diri dari membuat tuduhan terhadap orang Arab dan kaum Muslim. “Kami atas nama kerajaan, pemerintah dan warga Arab Saudi menolak bahwa siapa pun yang berkaitan dengan terorisme disangkut-pautkan dengan negara kami,” kata Bandar. Itu juga ter-masuk Osama bin Laden, yang disebut-sebut sebagai pelaku serangan tersebut dan telah diusir oleh keluarganya. Ia juga sebenarnya bukan orang Saudi, lanjut Bandar,
karena pemerintah telah mengambil paspornya akibat aktivitas terorisme yang ia lakukan.
Tetapi Osama bin Laden tadinya, tentu saja, memang orang Arab Saudi, dan ia juga bukan sembarang orang Saudi. Keluarga Binladen adalah salah satu keluarga kaya yang sangat dekat dengan Dinasti Saud sehingga mereka bisa bertindak seakan bagian dari Dinasti kera-jaan itu. Lebih dari lima dasawarsa, mereka telah membangun kera-jaan konstruksi bernilai multimilyaran dolar berkat kedekatannya dengan keluarga kerajaan. Bandar sendiri juga sangat mengenal mereka. “Mereka adalah orang-orang yang sangat penyayang,” katanya kepada CNN. “[Osama] adalah satu-satunya, saya hanya pernah ber-temu dia satu kali. Sementara lainnya adalah pengusaha sukses yang terpelajar dan terlibat dalam berbagai kegiatan amal. Ini, ini sungguh tragis. Saya dapat merasakan kepedihan mereka, karena ia telah me-nyebabkan timbulnya banyak kepedihan.” 10
Sama seperti Bandar, keluarga bin Laden merupakan contoh perkawinan antara Amerika Serikat dan Arab Saudi. Perusahaan kons-truksi besar milik mereka, Saudi Binladin Group (SGB)* menyimpan uang di bank Citigroup, berinvestasi dengan Goldman Sachs dan Merrill Lynch. Selama ini keluarga Binladen melakukan usaha ber-sama dengan ikon-
ikon dunia Barat,12 seperti Disney, Hard Rock Cafe, Snapple, dan Porsche. Pada pertengahan tahun 90-an mereka bergabung dengan berbagai anggota Dinasti Saud dan menjadi rekan bisnis mantan menteri luar negeri James Barker dan mantan Presiden George H. W. Bush dengan berinvestasi pada Carlyle Group, sebuah perusahaan
raksasa yang berlokasi di Washington DC. Seperti di-katakan oleh Charles Freeman, mantan duta besar AS di Arab Saudi, kepada Wall Street Journal, “Jika ada perusahaan yang sangat dekat dengan AS di Arab Saudi, itu adalah Saudi Binladen Group”

Komentar
  1. Diwan mengatakan:

    Kami adalah penerbit dari buku ini

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s