Life Begin at Forty

Posted: Maret 27, 2007 in Dakwah

SMA saya sudah berpikir nikah, tetapi baru mewujudkannya ketika saya kuliah di Fakultas Psikologi Universitas Gadjah Mada, Yogyakarta. Ada cita‐cita besar yang ingin saya wujudkan melalui pernikahan, meskipun bekal untuk mencapainya saya rasa masih sangat kurang, terutama dalam hal kedekatan ke‐pada Allah dan ilmu untuk mewujudkannya. Padahal segala sesuatu ada ilmunya yang harus kita ketahui sebelum melakukan. Al‐‘ilmu qablal ‘amali wal qauli. Ilmu itu sebelum perbuatan dan perkataan.

Mengapa nikah dini? Ada pesan Allah yang perlu kita renungkan, “Kami perintah‐kan kepada manusia supaya berbuat baik kepada dua orang ibu bapaknya, ibunya mengan‐dungnya dengan susah payah, dan melahirkannya dengan susah payah (pula). Mengandung‐nya sampai menyapihnya adalah tiga puluh bulan, sehingga apabila dia telah dewasa dan umurnya sampai empat puluh tahun ia berdoa: ʺYa Tuhanku, tunjukilah aku untuk mensyukuri nikmat Engkau yang telah Engkau berikan kepadaku dan kepada ibu bapakku dan supaya aku dapat brbuat amal yang shaleh yang Engkau ridhai; berilah kebaikan kepadaku dengan (memberi kebaikan) kepada anak cucuku. Sesungguhnya aku bertobat kepada Engkau dan sesungguhnya aku termasuk orang‐orang yang berserah diriʺ.” (QS. Al‐Ahqaaf, 46: 15).

Ayat ini mengingatkan kita untuk berbakti kepada orangtua, terutama kepada ibu, dan mencapai kemapanan dalam berbakti pada usia empat puluh tahun. Allah ‘Azza wa Jalla jadikan usia 40 tahun sebagai titik tonggak yang sangat penting. Ketika menafsirkan ayat ini, Ibnu Katsier menunjukkan sifat dari jenjang usia ini, yaitu akalnya matang dan pemahaman‐nya telah sempurna.

Diriwayatkan oleh al‐Hafizh Abu Ya’la al‐Mushili dari Utsman ra. bahwa Nabi saw. bersabda, “Seorang ‘abid muslim (‘abdu l‐muslimu) apabila telah mencapai usia 40 tahun, maka Allah Ta’ala akan meringankan hisabnya. Bila telah mencapai usia 60 tahun, Allah Ta’ala akan menganugerahinya kemauan untuk kembali kepada‐Nya. Bila telah mencapai 70 tahun, dia akan dicintai oleh para penghuni langit. Bila telah mencapai 80 tahun, Allah Ta’ala akan me‐ngukuhkan kebaikan‐kebaikannya dan menghapus kesalahan‐kesalahannya. Dan bila telah mencapai usia 90 tahun, Allah Ta’ala akan memberikan ampunan kepadanya atas dosa‐dosa yang telah lalu dan kemudian. Dan Allah Ta’ala akan memberikan hak syafa’at kepadanya un‐tuk ahli‐baytnya dan akan dituliskan di langit sebagai tawanan Allah di bumi‐Nya.”

‘Abd adalah seorang yang menghamba kepada‐Nya, menundukkan diri dan hatinya kepada Allah untuk menyembah‐Nya di pagi dan petang, siang dan malam. Ia menyembah kepada‐Nya dengan shalatnya, ‘ibadahnya dan hidupnya, yakni seluruh kehidupannya, ter‐masuk jabatan dan kariernya, sehingga dengan itu kelak matinya pun untuk Allah dan dalam
Seakjj
rangka ta’at kepada Allah ‘Azza wa Jalla. Bukankah kita selalu berikrar bahwa sesungguhnya shalatku, ‘ibadahku, hidupku dan matiku hanyalah untuk Allah Tuhan Sekalian Alam?

Semoga Allah Ta’ala memperjalankan kita sebagai hamba‐Nya yang senantiasa me‐nyembah‐Nya dengan shalat kita, ‘ibadah kita dan keseluruhan hidup kita. Semoga Allah ge‐napkan yang kurang dan sempurnakan yang cacat dan lemah dalam pengabdian kita kepada‐Nya. Allahumma amin.

Kembali kepada hadis riwayat Abu Ya’la yang kita kutip dari Tafsir Ibnu Katsier. Ada pertanyaan yang patut kita renungkan, mengapa Allah ringankan hisab seorang hamba yang telah mencapai usia 40 tahun? Jawaban pertama adalah wallahu a’lam bish‐shawab. Hanya Allah yang Tahu.

Selebihnya, izinkan saya mengambil pelajaran dari sedikit ilmu yang saya miliki dan pengetahuan yang serba terbatas. Secara psikologis, 40 tahun merupakan usia mapan secara mental. Artinya, usia ini secara umum menggambarkan diri kita secara keseluruhan hingga akhir hayat, meskipun perubahan‐perubahan besar masih sangat mungkin terjadi. Apa yang menjadi karakter kita di usia 40 tahun merupakan hasil dari proses panjang pematangan diri. Usia ini juga merupakan titik tolak untuk membangun kembali orientasi hidup yang lebih bermakna, atau sebaliknya justru terlepas dari makna tetapi tetap terjadi penguatan mental pada diri kita. Jika pada masa‐masa sebelumnya kita sudah memiliki dan secara terus‐mene‐rus membangun arah hidup, maka pada usia 40 tahun insya‐Allah kita memiliki orientasi yang lebih kuat, mapan dan berdaya. Di usia inilah kita lebih mampu mensyukuri segala nikmat Allah dalam diri kita dan hidup kita dengan lebih sempurna.

Tetapi…

Jika pada masa‐masa sebelumnya kita tidak memiliki orientasi hidup yang jelas, ti‐dak mempersiapkan diri dengan baik untuk memasuki usia ini dengan sukses, sulit memba‐yangkan kita mampu menjadikan usia 40 tahun sebagai titik tolak untuk menyempurnakan kebaikan‐kebaikan dan ketaatan kepada Allah ‘Azza wa Jalla. Sekalipun demikian, kita tidak menafikan bahwa usia ini sekaligus merupakan titik balik yang sangat menentukan. Perubah‐an orientasi secara mendasar di usia ini akan sangat mempengaruhi sisa perjalanan hidup kita yang mungkin tinggal 20 tahun, 30 tahun, 40 tahun atau syukur lebih dari 50 tahun.

Agar kita bisa memasuki usia 40 tahun secara sukses sebagai hamba yang bersyukur, Allah ‘Azza wa Jalla mengingatkan kita untuk memantapkan langkah dalam berbuat baik ke‐pada kedua orangtua (birrul walidain). Sangat luas cakupan birrul walidain yang bisa dan seba‐iknya kita lakukan. Semua itu memerlukan kesiapan mental sehingga kita tidak sampai ber‐kata kasar pada orangtua, kesiapan ilmu, kesiapan fisik, kesiapan pengalaman serta kesiapan finansial. Banyak kewajiban terhadap orangtua yang memerlukan biaya, sekalipun orangtua memiliki deposito yang besarnya melebihi kekayaan kita.

Pada bagian berikutnya dalam surat Al‐Ahqaaf ayat 15, Allah mengajarkan kepada kita untuk berdo’a di usia 40 tahun itu dengan permohonan, “Ya Tuhanku, tunjukilah aku un‐tuk mensyukuri nikmat Engkau yang telah Engkau berikan kepadaku dan kepada ibu bapakku dan su‐
paya aku dapat berbuat amal yang shaleh yang Engkau ridhai; berilah kebaikan kepadaku dengan (mem‐beri kebaikan) kepada anak cucuku. Sesungguhnya aku bertobat kepada Engkau dan sesungguhnya aku termasuk orang‐orang yang berserah diri.ʺ

Sesungguhnya do’a itu di satu sisi adalah permohonan yang kita sampaikan dengan penuh harap kepada Allah Tuhan Pencipta Langit an Bumi, dan di sisi lainnya merupakan ikrar. Berdustalah orang yang memohon kebaikan dunia akhirat, tetapi secara sengaja dia ba‐nyak berbuat maksiat.

Karena itu, agar perbincangan kita lebih sempurna, mari kita periksa do’a yang di‐tuntunkan Allah untuk kita mohonkan di usia 40 tahun. Pertama, kita membuka do’a dengan kesaksian bahwa hanya Allah yang memberi petunjuk dan hanya kepada‐Nya kita memohon petunjuk. Kita menyatakan pengakuan bahwa Ia adalah tuhan kita seraya memohon hidayah tatkala kita berkata, “Ya Tuhanku, tunjukilah aku”. Maka, selayaknya kita membekali diri dengan ilmu tentang perintah dan larangan‐Nya. Mudah‐mudahan dengan itu Allah menganugerah‐kan kepada kita hidayah.

Kedua, kesaksian kita bahwa hanya Allah yang memberi petunjuk tersebut secara khusus kita mohonkan kepada‐Nya untuk memberi hidayah kepada kita agar mampu menja‐di hamba yang mensyukuri nikmat‐Nya. Sesungguhnya syukur itu meliputi gerak hati (bil qalbi), ucapan (bil lisan) dan perbuatan nyata, yakni mempergunakan nikmat yang Allah beri‐kan kepada kita untuk menegakkan kalimat Allah di muka bumi, memuji‐Nya dengan kata‐kata dan perbuatan, menolong agama Allah, serta mempergunakan nikmat untuk melakukan proyek‐proyek kebaikan.

Ketiga, memohon petunjuk dan kekuatan kepada‐Nya agar mampu mensyukuri nik‐mat yang telah Allah berikan kepada ibu bapak kita. Semoga dengan itu akan menambah ke‐cintaan kita kepada mereka, meningkatkan syukur kita kepada Allah, mendorong kita untuk lebih bersemangat dalam berbuat baik kepada ibu bapak kita. Semoga pula yang demikian ini membawa kita dan orangtua termasuk dalam barisan orang‐orang yang mensyukuri nik‐mat Allah, mengimani dan bertakwa kepadanya. Dan tidak bersyukur kepada Allah, orang yang tidak berterima kasih kepada manusia. Begitu Rasulullah saw. mengingatkan.

Jika kita dan orangtua termasuk golongan orang yang beriman kepada‐Nya, maka Allah akan saling susulkan kita ke surga kepada yang tingkat kebaikannya paling tinggi. Allah Ta’ala berfirman, “Dan orang‐orang yang beriman, dan yang anak cucu mereka mengikuti me‐reka dalam keimanan, Kami hubungkan anak cucu mereka dengan mereka, dan Kami tiada mengurangi sedikit pun dari pahala amal mereka. Tiap‐tiap manusia terikat dengan apa yang dikerjakannya.” (QS. Ath‐Thuur, 52: 21).

Keempat, memohon petunjuk kepada Allah ‘Azza wa Jalla agar mampu melakukan amal shaleh yang diridhai. Dan tidaklah amal kita diridhai Allah subhanahu wa ta’ala kecuali apabila kita ikhlas karena Allah dan sejalan dengan syari’atsaat melakukannya. Ini berarti, kita memerlukan kekuatan hati, kekuatan iman dan kekuatan ilmu agar mampu beramal sha‐lih yang diridhai. Kekuatan ilmu untuk mengetahui mana yang syar’i mana yang tidak, ke‐kuatan hati yang berpijak di atas kekuatan ‘ilmu agar kita mampu melakukan amal shalih de‐
ngan sebaik‐baiknya –bukan sebanyak‐banyaknya—dan terjauh dari ghurur1. Sedangkan ke‐kuatan diperlukan agar amal kita ikhlas. Di luar itu, keikhlasan kadang memerlukan penjaga, di antaranya kemampuan finansial kita.

Kelima, memohon kebaikan untuk diri kita, untuk keturunan kita dan melalui baik‐nya keturunan kita. Pada usia 40 tahun, idealnya kita sudah mencapai kemapanan dalam mem‐persiapkan generasi. Pada usia itu kita sudah bisa melihat gambaran dari keturunan kita, yak‐ni anak‐anak kita, karena mereka sudah mulai tumbuh dewasa. Sekurangnya anak pertama kita sudah di penghujung masa remajanya. Pada saat yang sama, ia sudah bisa kita harapkan untuk membimbing dan menjadi teladan bagi adik‐adiknya.

Jadi, pada usia 40 tahun mestinya kita tidak sedang sibuk‐sibuknya menceboki anak‐anak kita yang baru lahir. Masih kecil‐kecil.

Keenam, usia 40 tahun seharusnya menjadi titik tonggak kita untuk lebih berorientasi pada akhirat. Kita menjadi manusia yang lebih spiritual dibanding waktu‐waktu sebelumnya. Kita sudah tidak menyibukkan diri berpikir duniawi, meskipun kita barangkali sangat sibuk mengurusi dunia. Tetapi semua itu kita lakukan dengan orientasi yang lebih religius, sekali‐gus mempersiapkannya sebagai bekal pulang ke kampung akhirat.

Di usia ini, mudah‐mudahan kita mampu bertaubat dengan sebenar‐benar taubat. Kita berserah diri kepada Allah dan menggunakan sisa hidup kita untuk lebih banyak mela‐kukan amal shaleh yang diridhai, lebih khusyuk beribadah dan lebih siap menyongsong ke‐matian sebagai jalan perjumpaan dengan Allah ‘Azza wa Jalla. Mudah‐mudahan pada usia itu kita sudah mampu mencapai derajat nafsul muthmainnah. Jiwa yang tenang. Allahumma amin.

Jika kita mampu bersetia dengan do’a kita, dalam pengharapan dan tindakan, maka insya‐Allah surga telah merindukan kita. Allah Ta’ala berfirman di ayat selanjutnya, “Mereka itulah orang‐orang yang Kami terima dari mereka amal yang baik yang telah mereka kerjakan dan Kami ampuni kesalahan‐kesalahan mereka, bersama penghuni‐penghuni surga, sebagai janji yang benar yang telah dijanjikan kepada mereka.” (QS. Al‐Ahqaaf, 46: 16).

Nah, apalagi yang lebih indah daripada surga sesudah kematian kita. Di sana ada perjumpaan dengan Allah ‘Azza wa Jalla. Di sana ada kebahagiaan yang tak putus‐putus. Dan inilah sebaik‐baik impian kita. Inilah yang harus kita kukuhkan sebagai mimpi terindah sejak hari pertama kita menikah.

Secara keseluruhan, ada beberapa hal yang perlu kita wujudkan di usia 40 tahun (semoga Allah Ta’ala memampukan kita mencapainya). Selengkapnya, mari kita lihat apa saja yang perlu kita upayakan:

1 Ghurur artinya terkelabuhi. ‘Amal yang tampaknya shalih bisa kosong dari pahala apabila ada ‘amal yang lebih utama tidak kita laksanakan karena terjebak pada bentuk amal yang sudah kita pikirkan. Membangun masjid itu sangat mulia dan besar sekali pahalanya. Tetapi jika menyibuk‐kan memugar masjid yang sudah megah, sementara membiarkan tetangga masjid terancam kei‐manannya dikarenakan buruknya perekonomian mereka, maka memugar masjid bisa justru sia‐sia. Tidak berpahala.
1. Mapan dalam berbakti kepada ibu bapak. Untuk itu perlu kesiapan mental, iman dan finansial.

2. Mapan dalam mensyukuri nikmat Allah. Kita perlu melakukannya dengan hati, lisan dan perbuatan. Semoga dengan itu kita bisa menjadi manusia yang paling bermanfaat.

3. Mapan dalam melakukan amal shaleh yang diridhai. Untuk kita memerlukan kesiapan hati, iman dan ‘ilmu. Agar keikhlasan kita terjaga –tidak rusak—perlu ada penjaganya.

4. Mapan dalam melakukan proyek‐proyek kebaikan.

5. Mapan dalam mempersiapkan keturunan sebagai generasi yang tidak kita kha‐watiri nasibnya di belakang kita, baik secara material maupun spiritual.

6. Mapan secara spiritual, sehingga pada usia ini kita benar‐benar mampu mela‐kukan taubatan‐nashuhah dan berserah diri kepada‐Nya dengan sebenar‐benar penyerahan diri.

7. Mapan secara finansial. Ini sangat penting untuk menjaga keikhlasan, mendanai proyek‐proyek kebaikan, membiayai kegiatan dakwah kita sendiri maupun orang lain, membiayai birrul walidain kita, mendanai proses kaderisasi atas anak‐anak dan keturunan kita dan berbagai bentuk amal shaleh lainnya.

Nah, apa yang sudah kita lakukan untuk menuju ke sana?

Mengapa Perlu Visi Besar?
Uang bisa menjadi sumber kebahagiaan bagi mereka yang lapar. Tetapi uang bisa menjadi penyebab hilangnya kebahagiaan yang hakiki bagi mereka yang telah terpenuhi hajat hidupnya, karena pandangan terhadap uang, karena keinginan terhadap uang telah melalai‐kan apa yang terpenting untuk dicari dalam hidup ini. Uang juga bisa menjadi sumber perse‐lisihan –adanya maupun tidak adanya—yang membawa pada perpecahan ketika suami‐isteri tidak memiliki tujuan kuat yang hendak dicapai dan visi besar yang ingin diwujudkan.

Sepanjang pengalaman saya berhadapan dengan berbagai kasus pernikahan, suami‐isteri yang mudah berselisih kerapkali ditandai oleh niat yang salah semenjak awal menikah. Lurusnya niat sangat berpengaruh terhadap bagaimana mereka merasakan rumah‐tangga, menghayati kehidupan perkawinan dan memaknai hak maupun kewajiban. Niat juga mem‐pengaruhi harapan dan orientasi perkawinan. Semakin besar harapan, semakin mudah kecewa. Sedangkan semakin kuat orientasi, semakin mudah suami‐isteri menemukan kebahagiaan a‐tas setiap pernik kehidupan perkawinan.

Harapan berkait dengan apa yang ingin kita dapatkan. Sedangkan orientasi perka‐winan berhubungan dengan apa yang ingin kita lakukan, apa yang hendak kita bangun dalam pernikahan. Keduanya mirip, tetapi berbeda sekali pengaruhnya dalam kehidupan perkawin‐an. Bentuk perilakunya bisa sama, tetapi maknanya sangat jauh berbeda.
Bagaimana dengan visi perkawinan? Visi berhubungan dengan kepekaan terhadap arah dan tujuan (sense of purpose and direction). Ia memberi energi.

Dua Anak Cukup!
Sesudah iman dan taqwa, dua hal yang perlu kita miliki agar kita mampu menggeng‐gam dunia dan mewujudkan kejayaan. Allah Ta’ala berfirman, “Kemudian Kami berikan ke‐padamu giliran untuk mengalahkan mereka kembali dan Kami membantumu dengan harta kekayaan dan anak‐anak dan Kami jadikan kamu kelompok yang lebih besar.” (QS. Al‐Israa’, 17: 6).

Dalam Al‐Qur’an, jika terdapat kata “Aku” sebagai kata ganti Allah, maka itu meru‐juk pada kekuasaan Allah secara mutlak. Misalnya kata “aku” dalam firman Allah subhanahu wa ta’ala berikut ini:

“Dan Ingatlah ketika Tuhanmu berfirman kepada para malaikat: ʺSesungguhnya Aku hendak menjadikan seorang khalifah di muka bumiʺ. Mereka berkata: ʺMengapa Engkau hendak menjadikan (khalifah) di bumi itu orang yang akan membuat kerusakan padanya dan menumpahkan darah, padahal kami senantiasa bertasbih dengan memuji Engkau dan menyu‐cikan Engkau?ʺ Tuhan berfirman: ʺSesungguhnya Aku mengetahui apa yang tidak kamu ke‐tahuiʺ.” (QS. Al‐Baqarah, 2: 30).

Atau dalam ayat berikut:

“Karena itu, ingatlah kamu kepada‐Ku niscaya Aku ingat (pula) kepadamu, dan bersyukur‐lah kepada‐Ku, dan janganlah kamu mengingkari (nikmat) ‐Ku.” (QS. Al‐Baqarah, 2: 152).

Sedangkan kami “kami” menunjukkan bahwa Allah subhanahu wa ta’ala melibatkan pihak lain untuk mewujudkannya; bisa malaikat, bisa manusia. Kadang kata “kami” menun‐jukkan keadaan bersyarat. Firman Allah dalam surat Al‐Israa’ ayat 6 mengisyaratkan kepada kita agar berusaha sekaligus menata diri agar siap menggenggam harta kekayaan dan anak‐anak yang banyak. Tanpa iman dan taqwa, banyaknya harta bisa menghancurkan, sedikitnya bisa menjadi penderitaan, dan berlimpahnya bisa membuat hidup terasa hampa. Tanpa keka‐yaan, banyaknya anak bisa berarti lemahnya generasi.

Oleh Mohammad Fauzil Adhim
Materi Kajian Jumat Masjid Syuhada

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s