Belajar Dari Fenomena Tukul Arwana

Posted: Maret 28, 2007 in Artikel

Tukul Arwana, siapa yang tak kenal? Kini hampir tiap hari sosok itu menyambangi para penonton televisi dengan suasana penuh banyolan yang menyegarkan. Ia memang pelawak. Kini benderanya berkibar tinggi sebagai host yang sangat kocak dalam sebuah talkshow yang digemari oleh berbagai lapisan masyarakat. Siapa mengira, bahwa dahulu Tukul seorang sopir pribadi?

Tukul adalah sebuah fenomena yang mengagumkan, khususnya dalam hal karier. Ia telah menapaki pekerjaan dari jenjang yang sangat rendah hingga menempati posisi yang sangat berpengaruh bagi masyarakat. Untuk itu dia tidak perlu menjadi pribadi yang lain.

Ia tidak pernah menutupi asal-usulnya sebagai orang miskin dan kurang berpendidikan. Dalam salah satu episode acara Glamour belum lama ini, segala kisahnya pada masa lalu dibiarkannya dibeberkan oleh orang-orang yang mengenalnya. Toh, acara itu justru sangat menarik dan menimbulkan kekaguman.

Menurut pengakuannya, keberhasilannya menjadi seperti sekarang ini tidak lain “hanya” karena ia terus belajar menjadi entertainer yang baik. Nah, belajar rupanya merupakan kunci sukses yang sangat penting. Tentu saja ini berlaku umum, bukan hanya dalam dunia hiburan. Selain belajar, adakah yang lain?

Makna Pekerjaan
Pada umumnya orang menyebut pekerjaan sebagai kegiatan mencari nafkah. Memang benar dengan bekerja seseorang mendapatkan hasil kasat mata berupa uang. Benar, banyak orang melakukan pekerjaan apa saja demi uang.

Namun, kita tahu ada juga orang yang menolak pekerjaan tertentu atau berhenti bekerja dengan berbagai alasan di luar gaji: tidak cocok dengan jenis pekerjaan yang ada, tidak cocok dengan atasan dan rekan kerja, tidak memiliki peluang karier, tidak menjanjikan masa depan, tidak sesuai minat, dan sebagainya.

Sementara ada juga orang yang tetap loyal dengan pekerjaannya, meski secara finansial tidak menjanjikan apa-apa. Ini semua menunjukkan bahwa ada hal lain yang diberikan oleh pekerjaan selain sekadar uang.

Calhoun dan Acocella dalam buku Psychology of Adjustment and Human Relationship memaparkan empat hal yang dapat diperoleh seseorang selain uang. Pertama, pekerjaan memberikan suatu pola dalam kehidupan, menciptakan ritme kehidupan dari hari ke hari, minggu ke minggu, dan seterusnya. Kedua, pekerjaan memberikan suatu jaringan sosial, relasi sosial, secara formal maupun informal. Ketiga, pekerjaan memberikan identitas; memperjelas siapa diri kita dan apa status kita. Keempat, pekerjaan memberikan dasar bagi harga diri: memberikan perasaan bahwa kita memiliki tanggung jawab moral, memungkinkan kita unjuk kompetensi dan menguji keterampilan.

Dengan berbagai hal yang dapat diberikan oleh pekerjaan, ada alasan mengapa seseorang bekerja. Ada orang yang benar-benar sekadar berburu uang, ada yang menjadikan pekerjaan sebagai kesempatan untuk melayani orang lain dan Tuhan, ada yang bekerja untuk dapat mengembangkan minat-minatnya, dsb.

Yang berburu uang akan bekerja dengan cara apa saja, asalkan menghasilkan uang sebanyak-banyaknya. Mereka yang menjadikan pekerjaan sebagai kesempatan untuk melayani orang lain akan bekerja dengan ketekunan untuk kebaikan bersama. Yang bekerja untuk mengembangkan minat-minatnya dalam bidang seni, ilmu pengetahuan, dll, terus mencari peluang agar selalu kreatif mencipta.

Menentukan Jangka Panjang
Berbagai perbedaan perilaku kerja ini mencerminkan nilai-nilai kerja secara personal; mencerminkan apa makna kerja bagi tiap-tiap pribadi. Meski seringkali kurang kita sadari, bagaimana kita memaknai pekerjaan, bagaimana perilaku kerja kita, sebenarnya sangat menentukan karier kita dalam jangka panjang. Bagaimana hal ini terjadi?

Dalam bekerja, kita dalam keadaan saling bergantung dengan orang lain atau pihak lain. Hal ini berlaku bukan saja bagi kita yang bekerja dalam komunitas kantor, industri, dsb, yang jelas-jelas tujuan organisasinya dicapai secara kolektif dengan adanya pembagian tugas yang saling berhubungan.

Mereka yang mengibarkan bendera sebagai pekerja mandiri seperti Tukul pun tidak dapat lepas dari ketergantungannya terhadap pihak lain (produser acara televisi, penonton, dll). Mereka yang berwirausaha, keberhasilannya sangat tergantung pada relasinya dengan pihak-pihak lain yang terkait dengan usahanya, bahkan juga tergantung pada tenaga kerja yang membantunya.

Dengan keadaan saling bergantung (interdependence), keberhasilan kita ditentukan bagaimana kita menghargai pihak-pihak lain. Mereka yang berorientasi pada kepentingan pribadi, kurang memedulikan kepentingan atau kesejahteraan pihak lain, tidak akan mendapatkan dukungan dan kesuksesan dalam jangka panjang.

Dengan berbagi nilai kerja yang ada, yang paling berpeluang untuk berhasil dalam jangka panjang adalah bila pekerjaan itu didedikasikan untuk orang lain, selain untuk diri sendiri. Kinerja yang kuat tentu saja sangat penting.

Tukul mencapai sukses seperti sekarang karena ia telah sungguh-sungguh melatih diri menjadi entertainer andal. Namun, bila hal itu dilakukan semata-mata demi ketenaran, kekayaan, atau orientasi pribadi lainnya, hal ini tidak akan mampu memberikan spirit dukungan dari orang lain seperti yang diterimanya selama ini.

Bagaimana kita memaknai pekerjaan kita, sangat menentukan kelangsungan karier kita dalam jangka panjang. Selain tidak menghasilkan dukungan dari orang lain dalam jangka panjang, hal ini juga berdampak timbulnya rasa kekosongan karena kebutuhan psikologis, sosial, dan spiritual, tidak mendapatkan makananya. Kita tidak akan mampu bertahan hidup secara sehat bila demikian.

Martin Luther yang sangat besar pengaruhnya terhadap nilai-nilai lama masyarakat Barat mengatakan, “To work was to serve God”. Dengan nilai-nilai seperti itu orang akan mendedikasikan pekerjaannya untuk Tuhan, yang berarti ditujukan untuk orang lain selain untuk dirinya sendiri.

Dalam periode ketika masyarakat Barat menganut nilai-nilai tersebut, kendati dengan pertumbuhan ekonomi yang tidak terlalu tinggi seperti sekarang, mereka justru memiliki kesejahteraan mental yang memuaskan. Kini, setelah nilai-nilai itu ditinggalkan, kesejahteraan ekonomi jauh melesat, semakin sedikit yang mengaku bahwa kesejahteraan mental mereka dalam keadaan memuaskan.

Bagaimana dengan kita? @

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s