Anak Itu, Zhang Da

Posted: Maret 29, 2007 in Artikel, Resonansi

AYAH bilang ibu pergi ke laut
Waktu aku tanya, “Kenapa ibu tidak pulang?”
Ayah menjawab, “Ibu mungkin tidak pulang.”
Tentu saja kemudian aku bertanya, “Apakah ibu tidak kangen padaku?”
Dan ayah menjawab, tentu saja ibu kangen dan tetap sayang padaku.
Tapi kenapa ia tidak pulang?
Apakah ada seorang anak sepertiku yang ada di laut, sehingga ibu tidak mau lagi pulang ke rumah ini?
Kulihat ayah diam.
Sepasang mata ayah kemudian berair.
Ia menangis sambil memelukku.
Aku heran sekali. Ayah sekarang gampang menangis
!

(Puthut EA)

Kepedihan seorang anak yang ditinggal ibunya, tergambar dalam cerita pendek tulisan Puthut EA berjudul “Ibu Pergi Ke Laut”, namun itu tadi hanya kutipan sebagian. Kisah serupa, juga dialami seorang anak di China bernama Zhang Da,¬†setelah kehilangan ibunya, dalam usia 10 tahun, ia merawat ayahnya dengan luar biasa, ketika perjuangannya itu dilihat oleh banyak orang, ia kemudian dinobatkan sebagai anak luarbiasa. Penghargaan apakah yang diinginkannya? “Aku hanya mau ibuku kembali,” katanya dengan suara bergetar.

Banyak orang tua mampu memberi uang kepada anaknya, banyak pula yang mampu memberi makanan, tak sedikit yang mampu memberikan pakaian dan uang sekolah, namun, lebih banyak lagi orang tua yang sesungguhnya tidak memberikan apa-apa selain uang, makanan, pakaian dan uang sekolah. Anak-anak yang secara biologis punya orang tua, tetapi spiritual yatim piatu.

Zhang Da, mengurus ayahnya dengan ikhlas dari lubuk hati, semua yang ia kerjakan semata-mata karena ingin membalas kebaikan budi ayah-ibunya. Anak ini kasih dan cinta kepada ayah-ibunya. Secara biologis ia anak yatim, tak ber- ibu, tetapi secara spiritual ia memiliki orang tua seutuhnya. Sayangnya, banyak orang tua berlaku sebaliknya, mereka memberi demi mendapatkan balas budi sang anak. Tak jarang kita dengar, anak-anak yang harus membayar utang kepada orang tuanya. “Sudah sekian tahun kau kami beri makan, pakaian dan uang sekolah. Sekarang kau harus membalas budi orang tua dan menolong adik-adikmu,” begitu acap kita dengar.

Setengah terpaksa, setengah ikhlas, tapi toh dikerjakan oleh anak-anak itu. Sungguh aku tak tahu, apa harus menangis atau tersenyum…., tulis Romo Mangun.

Alangkah indahnya bila anak-anak dengan suka hati membiayai, mengurus ayah ibu dan adik-adiknya, ikhlas semata karena dilandasi cinta, bukan karena dibombardir argumentasi memuakkan soal kewajiban anak membalas budi.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s