Perang Harga ADSL dan 3G

Posted: Mei 2, 2007 in Cyber Net

Kehadiran high speed internet 3G membuat ADSL mau tidak mau mengubah strategi marketing. Salah satunya, menurunkan tarif.
Kompetisi tarif antara ADSL dan 3G juga menjadi hal menarik untuk diperhitungkan. Sebab, untuk market di Indonesia, tarif masih menjadi primadona yang sangat menentukan laku tidaknya sebuah produk. Tarif yang terlalu mahal meskipun kualitas lebih bagus tidak menjamin akan sukses di pasar. Masyarakat masih lebih suka memilih tarif murah dengan kualitas sedang. Ambil contoh misalnya pentarifan pulsa operator di Indonesia. Selama 2006, para operator wireless baik GSM maupun CDMA melakukan strategi perang tarif murah.

Tujuannya tidak lain untuk mempertahankan pelanggan lama dan merekrut pelanggan baru sebanyak-banyaknya. Hasilnya, Esia sebagai operator CDMA di bawah Bakrie Telecom berhasil mendongkrak jumlah pelanggan dari 487 ribu diakhir 2005 menjadi 1,3 juta pelanggan pada akhir September 2006 yang berarti naik hingga 167 persen. Begitu juga dengan TelkomFlexi, program Sureprice-nya mampu meningkatkan pelanggan Flexi hingga 54 persen hanya dalam waktu dua bulan setelah program diluncurkan. Dari dua contoh tersebut terlihat jelas, animo masyarakat terhadap harga murah masih sangat tinggi.

Jadi bukan tidak mungkin kalau perang tarif juga berlaku di arena internet broadband antara ADSL dan 3G. Seperti diakui Septika Widyasrini, Executive General Manager Multimedia Division PT. Telkom yang membawahi Telkom Speedy. Menurutnya, penurunan tarif Speedy perlu dilakukan agar lebih terjangkau masyarakat dan juga mampu bersaing dengan 3G. Suatu kebijakan yang cukup bijaksana. Karena meskipun segmentasinya berbeda, tapi Speedy juga harus memperhitungkan keberadaan high speed internet yang ditawarkan 3G.

Coba saja kita bandingkan tarif yang saat ini ditawarkan Speedy dan XL3G misalnya, akan terlihat perbedaan yang cukup signifikan. Untuk Speedy Profesional kapasitas 2GB berabonemen Rp 700 ribu/ bulan di-compare dengan Paket Giga Data kapasitas 3GB dengan abonemen perbulan Rp 500 ribu, ternyata charge per kb untuk Paket Giga Data masih lebih murah, hanya Rp 0,16/kb dibandingkan charge Speedy Profesional Rp 0,35/kb. Selain itu, untuk kelebihan pemakaian XL3G hanya membebankan Rp 0,4/kb sedangkan Speedy Rp 7/kb.

Tarif data yang ditawarkan Indosat lebih murah lagi. Paket data kapasitas 2,5GB hanya dikenakan abonemen Rp 275 ribu per bulan atau sama dengan Rp 0,11/kb. Begitu juga untuk Paket 1GB hanya dicharge per bulan Rp 130 ribu yang berarti tarifnya per kb-nya hanya Rp 0,13. Dan kelebihan pemakaian yang dibebankan ke pelanggan hanya Rp 0,5/kb.

Bagi masyarakat yang aktif memakai internet pastilah sangat concern dengan perbedaan harga tersebut dan menjadi alasan kuat memilih internet 3G dibandingkan ADSL. Karena selain tarifnya lebih murah, untuk saat ini kecepatannya pun bisa diandalkan. Memang harga 3G saat ini masih taraf promosi. Tapi setidaknya, persaingan yang terjadi di antara penyedia layanan data 3G pun cukup ketat antara XL, Indosat, dan Telkomsel. Jadi meskipun sudah lewat masa promo, kenaikan tarif yang akan diberlakukan tidak akan jauh berbeda dengan yang berlaku saat ini.
Bahkan bisa jadi akan semakin murah setelah 3G dikolaborasikan dengan WiMAX yang punya kanal lebih lebar dan kemampuan deliver datanya 20 kali lebih cepat dari 3G. Sehingga persaingan harga pun akan makin marak. Dan akhirnya, masyarakat yang akan diuntungkan karena bisa menikmati internet dengan harga terjangkau.   

Sumber: Telset Online

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s